• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Riak Debu Angkasa Akibat Cahaya Bintang

Admin Website by Admin Website
October 13, 2022
in Artikel, Info Astronomi
0
Riak Debu Angkasa Akibat Cahaya Bintang
572
SHARES
2.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Hariyadi Putraga
Tim OIF UMSU

JWST kembali mengungkap salah satu misteri di alam semesta dengan menunjukkan sebuah objek teoritis yang dapat terlihat. Kali ini Teleskop Webb mendapatkan sebuah gambaran dimana sebuah bintang memiliki “Lapisan” di sekitarnya. Lapisan-lapisan tersebut merupakan kumpulan debu angkasa yang terdorong oleh cahaya bintang dan membuat debu angkasa di sekitarnya membentuk pola riak air.

Riak di permukaan air pada umumnya terjadi dikarenakan ada sebuah objek yang menghantam permukaan air sehingga menghasilkan energi kinetik yang menggerakkan permukaan air dengan pusatnya adalah sumber energi tersebut. Dengan fenomena ini, astronom menyimpulkan fenomena ini hanya dapa terjadi akibat pengaruh energi besar yang dipancarkan oleh interaksi bintang raksasa.

Dust plumes observed being 'pushed' into interstellar space by intense starlight
Ilustrasi interaksi pada WR140

Sistem bintang biner WR140 terdiri atas sebuah bintang Wolf-Rayet dan sebuah bintang super raksasa biru yang berinteraksi dan mengakibatkan ikatan gravitasional dalam masa orbit delapan tahunan. Bintang biner ini berada pada rasi Cygnus yang telah diamati selama lebih dari dua dekade oleh salah satu teleskop optik terbesar di dunia di Observatorium Keck, Hawaii.

WR140 secara bertahap menghembuskan gelombang debu yang tercipta setiap delapan tahun dan memberikan kesempatan pada astronom untuk mengamati bagaimana cahaya bintang dapat mempengaruhi material di angkasa.

Cahaya seperti yang diketahui memiliki momentum dan menghasilkan sebuah dorongan ke partikel dan material yang dikenal sebagai tekanan radiasi. Astronom sering mendapati fenomena ini dari bentuk dan keberadaan zat yang memiliki kecepatan perjalanan di luar angkasa, namun sangat sulit untuk mendapati pembuktian dan dokumentasinya, apalagi percepatan yang dihasilkan oleh gravitasi yang sangat jarang teramati, bahkan untuk benda angkasa seperti ini. Selain itu jarak dan waktu yang panjang mengakibatkan keterlihatan yang sampai di bumi juga menjadi kendala apabila hanya diamati dalam jangka pendek, sehingga pengamatan astronomi seperti ini memerlukan waktu yang sangat lama.

Baffling 'spiderweb' star is a nesting binary – not an alien megastructure
Gambar NICam dari WR140

Semua bintang tentu menghasilkan angin stellar, tetapi untuk bintang jenis Wolf-Rayet dapat menghasilkan lebih dari angin, bahkan dapat memperlihatkan gambaran seperti badai stellar. Elemen seperti karbon pada angin yang tertiup akan tetap panas dan dapat terlihat terang dalam pengamatan infra merah.

Dari hasil pengamatan, peneliti menyimpulkan bahwa WR140 merupakan dua buah bintang yang memiliki orbit tidak melingkar, namun lebih kepada orbit elips yang menghasilkan debu angkasa pada setiap interval waktunya saat berinteraksi, sehingga menghasilkan riak debu bintang pada sistem tata suryanya.

Baffling 'spiderweb' star is a nesting binary – not an alien megastructure

Dari hal ini tentu menjadi gambaran bagaimana planet, satelit alami dan batu angkasa dapat terbentuk pada jarak dan posisi mereka di sebuah sistem tata surya bintang tersebut, termasuk proses pembentukan planet serta benda angkasa lainnya di sistem tata surya kita.

Tags: hariyadi
Previous Post

Kamera Insta360 One X2

Next Post

Fajar Kādzib, Fajar Shādiq, dan Fajar Astronomi

Next Post
Fajar Kādzib, Fajar Shādiq, dan Fajar Astronomi

Fajar Kādzib, Fajar Shādiq, dan Fajar Astronomi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU