• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Kolom

Soal “Tidak Faham”, Soal Toposentrik, dan Soal Geosentrik (Tanggapan atas Periset BRIN dan Kemenag RI)

Admin Website by Admin Website
January 17, 2026
in Kolom
0
Soal “Tidak Faham”, Soal Toposentrik, dan Soal Geosentrik (Tanggapan atas Periset BRIN dan Kemenag RI)
584
SHARES
2.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU

Tulisan saya yang berjudul “Toposentrik, Geosentrik, dan KHGT : Tanggapan Kembali atas Tulisan Pakar BRIN & Kemenag RI”(baca:https://oif.umsu.ac.id/toposentrik-geosentrik-dan-khgt-tanggapan-kembali-atas-tulisan-pakar-brin-kemenag-ri/) yang menanggapi tulisan seorang pakar yang mewakili BRIN dan THR Kemenag RI kembali ditanggapi oleh yang bersangkutan dengan tulisan terbarunya yang berjudul “Beda Garis Tinggi Bulan: Toposentrik Diyanet dan Geosentrik MTT PPM”. Sekilas saya membaca tanggapan (tulisan) sang pakar ini tampak apologis alias ingin membenarkan pernyataan-pernyataan sinis-tendensius sebelumnya sekaligus mencari celah KHGT yang dapat diangkat. Padahal substansi yang dibicarakan merupakan persoalan biasa dan bahkan telah berulang, terlebih puncak dan muara diskursus ini adalah soal fikih, namun tampaknya sang pakar menganggapnya teramat penting dan serius, serta belum usai.

Jika dalam tulisan-tulisan sebelumnya sang pakar kerap tendensius dan sinis, kini muncul tipikal baru dari sang pakar yaitu merasa paling benar dengan melabeli orang lain dengan “tidak faham”. Di paragraf pertama tulisannya sang pakar menulis sebagai berikut: “MTT PPM tidak faham bahwa kriteria “tinggi 5 derajat di atas ufuk” itu bermakna “toposentrk”. Sehingga tidak ada alasan menyebut kriteria Turki tidak menyebut “toposentrik’ atau “geosentrik”. Sang pakar masih mengangkat isu ini (toposentrik-geosentrik), padahal pembahasan dan penjelasannya sudah selesai betapapun perdebatannya tidak pernah usai. Pada tulisan sebelumnya saya telah menjelaskan bahwa praktik geosenrik-toposentrik dalam putusan Turki 2016 M (yang diadopsi oleh Muhammadiyah dengan KHGT-nya) memang multi-tafsir sehingga menimbulkan paradoks dan kebingungan, dan tidak dipungkiri ini merupakan bagian yang harus didefinitifkan oleh setiap pengguna (negara) yang mengadopsi Putusan Turki 2016 M atau KHGT. Multi-tafsir dan pardoks itu antara lain (sebagaimana telah saya tulis) yaitu ketidak-konsistenan atau anomali Diyanet Turki dalam mengonstruk peta garis tanggalnya. Pada jawaban poin pertama dari sejumlah poin yang ditanyakan pihak MTT PP Muhammadiyah kepada Diyanet Turki dijelaskan sebagai berikut (pengutipan ini atas seizin MTT PP Muhammadiyah dan tim IT dan Software),

Disini tampak multi-penggunaan geosentrik dan toposentrik oleh Diyanet, lalu dalam praktiknya (untuk kasus awal Ramadan 1447 H) Diyanet menambahkan pertimbangan kepadatan penduduk. Ini kenyataan dan realita di lapangan. Di satu sisi MTT PP Muhammadiyah berkepentingan agar sama dengan Diyanet Turki, namun di sisi lain MTT PP Muhammadiyah harus menjaga akurasi dan keilmiahan konsep KHGT/Turki 2016 M itu (sebagaimana dalam penjelasan MTT PP Muhammadiyah, baca), karena sebuah kalender yang bertaraf global tidak boleh dikonstruk semata dengan kesepakatan dengan mengabaikan akurasi dan keilmiahan. Karena itu manakala dengan pertimbangan dan proses yang telah dilalui ini sang pakar melabeli dengan “tidak faham” tentu ini sebuah sikap merasa paling benar atau perasaan superioritas. MTT PP Muhammadiyah dan orang-orang yang terlibat dalam tim IT dan software sepenuhnya mengerti dan memahami soal geosentrik-toposentrik ini. Namun karena konteks permasalahannya tidak semata soal ini, tapi ada faktor dan pertimbangan lain, maka diputuskan seperti telah diputuskan yaitu dengan memilih geosentrik. Sebelumnya saya telah menginformasikan bahwa dalam diskusi internal tim memang cukup dinamis, bahkan dialektis, diantaranya soal peta Diyanet ini.

Adapun jika dinyatakan bahwa praktik Diyanet, yang seharusnya diikuti Muhammadiyah, paradoks dan membingungkan tentu sepenuhnya dapat dipahami, karena memang demikian halnya. Namun melabeli ‘tidak faham’ padahal telah ditelaah secara komprehensif dan kolektif, dengan pertimbangan mendalam, maka sekali lagi ini bentuk sikap merasa diri paling benar. Mengapa demikian? adalah karena lagi-lagi sang pakar hanya melihat dari satu sudut perspektif, sambil terus mencari dan mengumpulkan celah-celah yang dapat diangkat. Dari tulisan-tulisan sang pakar sebelumnya tampak jelas indikasi analisisnya yang parsial dan partisan.

Adapun pernyataan sang pakar: “Beda kasus dengan kriteria MABIMS yang hanya menyebut “elongasi 6,4 derajat” karena bisa dimaknai “toposentrik” (merujuk pada permukaan bumi) atau “geosentrik” (merujuk pada pusat bumi)”. Terhadap pernyataan ini saya mencatat tiga hal. Pertama, pernyataan ini tampak teramat percaya diri seolah kriteria MABIMS telah sempurna, padahal dalam praktiknya kerap terjadi paradoks dan inkonsistensi dalam praktik dan implementasinya, terlebih saat menerapkan kriteria 2-3-8. Sejujurnya saya tidak ingin mengungkit (lagi) isu paradoks-inkonsistensi kriteria MABIMS ini, saya hanya ingin fokus pada KHGT saja, namun sang pakar mengangkatnya. Sejak beberapa tahun lalu saya telah menulis sejumlah tulisan mengkritisi kriteria MABIMS dan telah saya konstruk dalam sebuah buku berjudul “Isbat Awal Bulan Hijriah di Indonesia” (buku dapat diunduh di sini : https://oif.umsu.ac.id/isbat-awal-bulan-hijriah-di-indonesia-catatan-kritik-dan-solusi/). Paradoks-inkonsisten MABIMS itu secara spesifik dapat dibaca di sini: https://oif.umsu.ac.id/paradoks-kriteria-mabims-3-6-4/, dimana pada awal Syawal 1443 H kriteria MABIMS tidak memenuhi 3-6.4 dengan asumsi sudut elongasi secara toposentrik, kecuali secara geosentrik di teritorial ujung Sumatera. Di sini saya mengkritisi praktik toposentrik-geosentrik untuk awal Syawal 1443 H yang tidak jelas, yang dipertahankan sekuat tenaga oleh sang pakar.

Kedua, dalam konteks kriteria MABIMS, yang menurut sang pakar dapat dimaknai toposentrik dan geosentrik, lagi-lagi ini adalah tafsir pribadi sang pakar dalam menerjemahkan kriteria MABIMS. Sama diketahui tiap-tiap negara yang tergabung dalam MABIMS berbeda-beda dalam menerapkannya. Saya masih ingat perdebatan soal toposentrik-geosentrik di group WhatsApp “Kalender Hijri Nasional” beberapa tahun lalu. Terlepas dari hasil perdebatan itu, namun yang pasti soal toposentrik-geosentrik kerap terjadi perdebatan manakala diterapkan di lapangan. Dalam tulisan sebelumnya saya sudah menyatakan bahwa pendapat (pengetahuan) sang pakar tentang ini saya yakini ilmiah dan benar, namun tetap merupakan satu pendapat, bukan satu-satunya pendapat, terlebih bila dikaitkan dengan konteks yang lain.

Ketiga, justru dengan ambiguitas elongasi 6.4 kriteria MABIMS (dan ketinggian 3 derajat) yang bisa dimaknai geosentrik dan toposentrik menunjukkan ketidakjelasan konsep MABIMS itu sendiri. Namun sekali lagi saya memahami ini adalah tafsir sang pakar, bukan kesimpulan empat negara MABIMS. Sama dimaklumi terhadap kriteria MABIMS (sejak 3-6.4 hingga 2-3-8) sang pakar ini memang amat dominan.

Terkait toposentrik dan geosentrik ini lagi, dalam sebuah tulisannya (di blog) sang pakar pernah menyatakan sebagai berikut: “Perbedaan elongasi toposentrik dan geosentrik hanya terjadi ketika garis tanggal MABIMS melintas di dekat batas kawasan barat negara-negara MABIMS. Perbedaan sekitar 1 derajat antara elongasi toposentrik dan geosentrik menyebabkan potensi perbedaan, karena ada yang menganggap sudah masuk tanggal baru (berdasarkan elongasi geosentrik) dan ada yang menganggap belum masuk tanggal (berdasarkan elongasi toposentrik). Itu bukan masalah serius, karena sudah teridentifikasi sebelumnya”. Catatan saya, di sini tampak bahwa menurut sang pakar praktik geosentrik-toposentrik bagi MABIMS bukan masalah serius, sementara bagi KHGT merupakan masalah yang sangat serius sehingga diangkat terus-menerus, bahkan sampai dilabeli dengan “Tidak Faham”. Sekali lagi ini adalah sikap merasa paling benar.

Berikutnya lagi, masih soal geosentrik-toposentrik, sang pakar pernah menyatakan sebagai berikut (saya screenshot pernyataannya):

Di sini jelas bahwa geosentrik-toposentrik adalah perkara yang diperdebatkan yang memerlukan titik temu. Sehingga bila dikaitkan dengan pernyataan sang pakar dalam tulisan terkininya yang menyatakan: “Sehingga tidak ada alasan menyebut kriteria Turki tidak menyebut “toposentrik’ atau “geosentrik” adalah bentuk sikap tidak adil dan merasa paling benar. Padahal dalam pernyataannya tampak fleksibilitas sang pakar dengan menyatakan “perlu dicarikan titik temu agar…”. Lalu, mengapa dalam dan dengan KHGT teramat demikian dan nyaris tidak ada kompromi? Ini hanya pertanyaan retorik yang tidak perlu dijawab oleh karena telah diketahui substansi dan motif dibaliknya.

Berikutnya, sang pakar juga menyatakan sebagai berikut (saya screenshot lagi dari blognya),

Di sini jelas bahwa antara geosentrik dan toposentrik ada pro-kontra, namun akhirnya dengan kearifan dan kebesaran jiwanya sang pakar bisa menerima konsepsi geosentrik. Sangat arif sang pakar menyatakan: “Pada akhirnya, saya dapat menerima penggunaan elongasi geosentrik demi mencapai titik temu”. Namun pertanyaannya mengapa dalam konsepsi geosentrik-toposentrik KHGT (Turki 2016 M) sang pakar tampak tidak ada kompromi dan tidak ada fleksibilitas seperti dalam MABIMS? Lagi-lagi ini pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Selanjutnya pernyataan: “Pakar Falak” (saya beri tanda petik) dari MTT PPM yang tidak faham …”. Di sini sang pakar menyebut saya “Pakar Falak” (saya beri tanda petik)…”, lalu dipertegas dengan kalimat “…yang tidak faham…”. Selain diberi tanda petik, dipertegas dengan penegasan “tidak paham”. Untuk pernyataan dan penilaian ini sepenuhnya saya terima tanpa perlu saya bantah. Dalam konteks ini saya mengakui dan tidak pernah menafikan bahwa beliau adalah ahli dan pakar astronomi, yang mewakili BRIN dan Kemenag RI. Menjadi hak beliau pula sebagai pakar menilai seseorang tidak paham dan atau dengan tanda petik. Hanya saja dalam konteks ini, bila dikaitkan dengan analisis sang pakar terkait toposentrik-geosentrik seperti telah dikemuakan di atas menjadi paradoks dan inkonsisten. Dalam MABIMS sang pakar tampak fleksibel, tapi dalam KHGT tidak proporsional. Maka saya simpulkan ini sikap paradoks, inkonsisten, sekaligus merasa paling benar. Sekali lagi dalam hal ini saya hanya mencatat karakter dan atau sikapnya, bukan keahlian dan kepakarannya, saya tetap menghormati beliau sebagai seorang ahli dan pakar di bidang astronomi.

Selanjuutnya terkait peta (garis tanggal), sang pakar menyatakan “sudah menganalisis garis tanggal produk Diyanet (sampai 1457 H)”. Pertanyaannya, mengapa sang pakar hanya menampilkan dan membandingkan empat peta (untuk 4 bulan) itu saja? yang kebetulan untuk peta Diyanet keempatnya sengaja dipilih menggunakan toposentrik? Mengapa tidak ditampilkan juga peta-peta (garis tanggal) Diyanet yang menurut tim IT dan Software MTT PP Muhammadiyah terdapat ‘anomali’? Mengapa sang pakar tidak menampilkan dan menganalisisnya? Maka sangat jelas bahwa sang pakar hanya ingin menunjukkan kekurangan MTT PP Muhammadiyah, sebuah sikap tidak adil sekaligus kurang selektif dalam memilih data.

Karena itu, di bagian akhir tulisannya sang pakar yang menyatakan “Masih tidak percaya bahwa MTT PPM salah (bukan lagi tidak akurat) dalam menerapkan kriteria Turki?”, maka dari penjabaran yang telah dikemukakan sebelumnya tampak fakta yang sebenarnya, namun demikian hak beliau untuk tetap mengatakan “salah” dan dan “tidak akurat”. Jika pada awalnya sang pakar mempermasalahkan soal “Alaska”, kini beralih mempermasalahkan soal “geosentrik-toposentrik”. Mungkin saja nanti akan ada celah-celah lain yang akan diangkat dan dipermasalahkan, yang uniknya dalam segenap hal yang sang pakar permasalahkan kerap muncul diksi-narasi yang sinis dan tendensius yang memang dicari dan disengaja seperti “tidak faham”, “tidak akurat”, dan “tidak cermat”. Sekali lagi, ini tipikal sang pakar. Sekali lagi pula tampak ada hal yang belum selesai dari sang pakar dengan Muhammadiyah, sepenuhnya saya memahami dan memaklumi, namun sepenuhnya pula saya tidak ambil pusing. Wallahu a’lam[]

Previous Post

Kunjungan dari SD Muhammadiyah 01 Binjai

Next Post

Kunjungan Praktikum Mahasiswa Prodi Magister Pendidikan Agama Islam UMSU

Next Post
Kunjungan Praktikum Mahasiswa Prodi Magister Pendidikan Agama Islam UMSU

Kunjungan Praktikum Mahasiswa Prodi Magister Pendidikan Agama Islam UMSU

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU