Bedah Literatur oleh Abbiyu Naufal Al Hakim
Mahasiswa OJT UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Pertanyaan mengenai siapa yang lebih dahulu menghuni bumi sebelum manusia merupakan salah satu tema yang menarik untuk dikaji, baik dari sudut pandang keilmuan modern maupun dari khazanah pemikiran keagamaan klasik. Buku karya Mukti Ali yang berjudul Para Penghuni Bumi Sebelum Manusia berupaya menjawab pertanyaan tersebut dengan menghadirkan narasi tentang makhluk-makhluk yang diyakini telah menghuni bumi jauh sebelum penciptaan Nabi Adam, yakni Jin, Bin, dan Jan. Pembahasan dalam buku ini tidak berdiri sendiri, melainkan turut dikaitkan dengan salah satu ayat Al-Qur’an yang membicarakan penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sehingga kisah tersebut memperoleh landasan tekstual yang memperkuat argumentasinya.

Sumber : Perpustakaan OIF UMSU
Mengenal Buku dan Penulis
Buku “Para Penghuni Bumi Sebelum Manusia” merupakan karya Mukti Ali yang diterbitkan oleh Zahira, Jakarta, pada tahun 2014. Buku setebal 167 halaman ini membahas berbagai narasi mengenai makhluk-makhluk yang dipercaya telah menghuni bumi sebelum kehadiran manusia. Dalam bedah literatur ini, pembahasan difokuskan pada bab “Makhluk Penduduk Sebelum Kita” yang mengulas keberadaan Jin, Bin, dan Jan sebagai generasi penghuni bumi sebelum manusia.
Buku ini ditulis oleh K.H. Mukti Ali Qusyairi, Lc., M.A., yang lahir di Cirebon pada 17 April 1979. Ia memiliki latar belakang pendidikan pesantren, antara lain di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in, Lirboyo, Kediri, serta pernah menimba ilmu di PPMM Babakan Ciwaringin dan MAK Arjawinangun Cirebon. Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada 2002–2007, dan ia juga pernah menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam kiprahnya, Mukti Ali aktif sebagai peneliti di Yayasan Rumah Kitab serta menjadi salah satu pengurus Ishlah Center yang bergerak dalam bidang perdamaian dan rekonsiliasi. Ia juga tergabung dalam Ikatan Penulis Indonesia (IPI). Ketertarikannya terhadap khazanah keislaman dan manuskrip klasik turut terlihat dari penelitiannya pada tahun 2010 mengenai naskah kuno dan kitab kuning di berbagai pondok pesantren di Pulau Jawa. Penelitian tersebut menghimpun sekitar 1.000 judul kitab kuning yang kemudian diringkas, dikodifikasi, dan dituangkan dalam bentuk abstraksi kitab.
Latar belakang keilmuan dan pengalaman penulis tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam memahami karya Para Penghuni Bumi Sebelum Manusia, khususnya dalam menelusuri narasi tentang makhluk-makhluk yang dipercaya telah mendiami bumi sebelum penciptaan manusia.
Pembahasan Bab 2
1. Manusia Bukan Penghuni Pertama di Bumi
Sejumlah kalangan ilmuwan berpandangan bahwa cikal bakal kehidupan di bumi kemungkinan berasal dari luar angkasa, dibawa oleh mikroorganisme yang menumpang benda-benda langit dalam perjalanan yang menempuh waktu jutaan tahun. Gagasan ini dikenal dengan istilah lithopanspermia. Sementara itu, dari perspektif keagamaan, penyebutan Nabi Adam sebagai khalifah atau “pengganti” di muka bumi secara implisit mengandung makna bahwa sebelum kedatangannya telah ada penghuni lain yang lebih dahulu menempati bumi.
2. Generasi Pertama: Jin
Diceritakan bahwa Jin diciptakan Allah setelah bumi mengadukan keadaannya yang dipenuhi oleh hewan liar, burung, serta tumbuh-tumbuhan yang berkembang tanpa kendali. Jin digambarkan memiliki wujud yang beragam, mulai dari yang berwarna putih, hitam, merah, kuning, hingga yang bercorak bercak-bercak dan totol-totol. Populasi mereka terus bertambah hingga memenuhi permukaan bumi, dan pada akhirnya di antara mereka muncul kezaliman serta peperangan satu sama lain. Akibat kerusakan yang mereka timbulkan, Allah kemudian mengirimkan angin topan yang membinasakan hampir seluruh populasi Jin, yang menurut riwayat telah menghuni bumi selama kurang lebih lima ratus tahun.
3. Generasi Kedua: Bin
Setelah punahnya Jin, kekuasaan atas bumi beralih kepada Bin. Sebagaimana pendahulunya, Bin berkembang biak hingga jumlahnya kembali memenuhi bumi, bahkan sebagian di antara mereka dikisahkan sempat menetap di lapisan bumi yang ketujuh. Bin dikenal sebagai perintis berbagai penemuan, seperti penggalian sumur, pembuatan aliran sungai, roda, dan jembatan. Namun, aktivitas mereka pada akhirnya menimbulkan gangguan bagi kehidupan hewan-hewan di bumi, sehingga para hewan tersebut mengadukan persoalan itu kepada Allah. Sebagai responsnya, Allah menciptakan makhluk baru yang disebut Jan, yang kemudian memerangi Bin hingga tidak menyisakan satu pun dari mereka.
4. Generasi Ketiga: Jan dan Asal Mula Iblis
Setelah menguasai bumi, Jan juga mengalami nasib serupa dengan generasi sebelumnya: populasi mereka bertambah banyak, tetapi di antara mereka mulai tumbuh kedengkian dan pertumpahan darah. Bumi kembali mengadukan persoalannya kepada Allah, sehingga Allah mengutus pasukan malaikat untuk mengusir Jan dari muka bumi. Dalam pasukan tersebut terdapat sosok yang kelak dikenal sebagai Iblis, yang pada saat itu masih bernama Azazil dan menduduki posisi sebagai pemimpin para malaikat. Azazil berhasil memimpin pengusiran Jan hingga mereka terdesak ke wilayah pegunungan, dan sejak saat itu bumi berada di bawah kekuasaannya. Pada mulanya ia dikenal tekun beribadah kepada Allah, tetapi kemudian sikapnya berubah menjadi sombong karena merasa memiliki jasa besar atas keberhasilannya tersebut.
5. Kaitan dengan Al-Qur’an
Narasi mengenai Jin, Bin, dan Jan ini dikaitkan dengan Surah Al-Baqarah ayat 30, yang mengisahkan firman Allah kepada para malaikat perihal rencana-Nya menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Para malaikat mempertanyakan hal tersebut dengan mengungkapkan kekhawatiran bahwa khalifah yang akan diciptakan itu berpotensi menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah, sementara mereka senantiasa bertasbih dan memuji Allah. Allah kemudian menjawab bahwa Dia mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh para malaikat. Frasa “yang akan membuat kerusakan” dalam ayat tersebut dipahami sebagai rujukan kepada “makhluk” secara umum, bukan semata-mata manusia, mengingat generasi sebelumnya, yaitu Jin dan Bin, telah terbukti melakukan kerusakan di muka bumi. Dengan demikian, kekhawatiran para malaikat tersebut sesungguhnya berangkat dari pengalaman empiris mereka menyaksikan perilaku makhluk-makhluk terdahulu.
Nilai Penting Pembahasan
Pembahasan dalam bab ini memberikan pemahaman bahwa manusia bukanlah makhluk pertama yang menghuni bumi. Sebelum kehadiran manusia, telah terdapat tiga generasi makhluk yang silih berganti menguasai bumi, yaitu Jin, Bin, dan Jan, yang masing-masing pada akhirnya musnah akibat kerusakan yang mereka timbulkan sendiri. Narasi ini sekaligus menjelaskan asal usul Iblis sebagai mantan pemimpin malaikat yang kemudian jatuh ke dalam kesombongan. Pola pengulangan sejarah tersebut menawarkan sebuah pelajaran reflektif mengenai hubungan antara kekuasaan, kerusakan, dan pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebelum penciptaan manusia, bumi telah dihuni secara berurutan oleh tiga generasi makhluk, yaitu Jin, Bin, dan Jan, yang masing-masing mengalami kehancuran akibat kerusakan yang mereka perbuat sendiri. Iblis, yang semula bernama Azazil dan menjabat sebagai pemimpin malaikat, kemudian menguasai bumi setelah berhasil mengusir Jan, namun pada akhirnya terjerumus dalam kesombongan atas jasanya tersebut. Penciptaan Nabi Adam sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana disinggung dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, dengan demikian dapat dipahami sebagai kelanjutan dari rangkaian sejarah penghunian bumi, sekaligus menjadi konteks yang menjelaskan kekhawatiran para malaikat terhadap potensi kerusakan yang mungkin ditimbulkan oleh makhluk baru tersebut, mengingat pengalaman mereka menyaksikan perilaku Jin dan Bin sebelumnya.



