Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU) menggelar diskusi internasional pada agenda rutin OIF UMSU, Diskusi Observatorium & Astronomi (DOA) ke-43 secara daring via Zoom Meeting. Pada Sabtu, 15 Rabiulakhir 1448 H / 26 September 2026 M.
Diskusi berskala internasional kali ini membawa topik “The Role of Astronomy in Supporting Islamic Sharia (Case Study : Al-Azhar International Astronomy Center)” Peran Astronomi dalam Mendukung Syariah Islam (Studi Kasus : Pusat Astronomi Internasional Al-Azhar), dengan Narasumber yaitu Assoc. Prof. Dr. Ahmed Mohamed Abdelbar, beliau merupakan Direktur Eksekutif Pusat Internasional Al-Azhar untuk Astronomi dan Ilmu Antariksa Islam di Akademi Riset Islam, Mesir.
Kegiatan diskusipun turut dihadiri Kepala OIF UMSU, Assoc. Prof. Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA., seluruh Tim OIF, Dosen dan Mahasiswa Prodi Ilmu Falak FAI UMSU serta Tokoh-tokoh falak Indonesia dan Masyarakat umum dengan menggunakan bahasa arab sebagai bahasa pengantar dalam diskusi tersebut.



Narasumber memaparkan secara spesifik bagaimana astronomi ini terhubung erat dengan akidah kita, tafsir ayat-ayat kosmik dalam Al-Qur’an, hingga pemahaman hadis-hadis Nabi terkait alam semesta. Bahkan, Dr. Ahmed merincikan secara praktis bahwa sains empiris inilah yang menjadi penentu utama dalam keseharian ibadah kita, mulai dari akurasi waktu salat, penentuan arah kiblat yang presisi, hingga hal-hal krusial seperti penetapan awal bulan hijriah untuk ibadah puasa, zakat, dan haji. Penjelasan di bagian awal ini benar-benar membuka mata kita bahwa dalam peradaban Islam, sains dan wahyu agama tidak pernah bertabrakan, melainkan justru saling menopang dan menguatkan satu sama lain secara sempurna.
Puncaknya, di slide-slide bagian akhir, presentasi Dr. Ahmed membawa kita melompat ke era modern dan menatap masa depan dengan sangat luar biasa. Beliau memaparkan kiprah Pusat Global Al-Azhar untuk Astronomi Islam dan Ilmu Angkasa, sebuah lompatan inovatif hasil kolaborasi strategis dengan Badan Antariksa Mesir. Yang membuat kita semua takjub tadi adalah saat beliau memaparkan proyek-proyek kontemporer nan futuristik, seperti perumusan “Fikih Angkasa” yang secara khusus menyusun fatwa dan tata cara ibadah (salat dan puasa) bagi para astronot di luar angkasa, serta solusi hukum untuk umat Islam di daerah kutub yang mengalami siang atau malam yang sangat panjang.



Diskusi ini mendapat respons positif dari para peserta, terlihat dari antusiasme peserta dalam mengajukan berbagai pertanyaan menarik, salah satunya berupa ajakan untuk menjalin kerja sama dengan narasumber maupun instansi tempat narasumber mengemban amanah. Ke depannya, diskusi ini diharapkan tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga dapat memperluas wawasan serta menambah khazanah keilmuan bagi para peserta. Di akhir diskusi, narasumber juga menyampaikan informasi beasiswa jurusan astronomi ataupun falak di Mesir untuk masyarakat Indonesia dan kemudian ditutup dengan foto bersama.
Materi diskusi dapat diakses di sini






