Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Alhamdulillah, saya dapat hadir dalam launching buku “Fakih Yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” (70 Tahun Prof. Syamsul Anwar). Buku ini merupakan kumpulan tulisan berbagai pihak (kolega, murid, akademisi, tokoh publik) dalam rangka mengapresiasi karya, kiprah, pemikiran, dan kontribusi Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA dalam berbagai bidang keilmuan dan keislaman paska memasuki usia beliau 70 tahun. Saya pribadi lebih terbiasa menyebut dan memanggil dengan Pak Syamsul. Dalam buku ini saya berkontribusi dengan menulis bagian berjudul “Syamsul Anwar dan Kalender Islam Global”. Saya menguraikan secara singkat karya dan pemikiran Pak Syamsul dalam bidang hisab-rukyat dan kalender Islam, khususnya kalender Islam global. Di Muhammadiyah, bahkan di Indonesia secara umum, beliau adalah tokoh yang gigih memperjuangkan kalender Islam yang bersifat global. Perjuangan itu tampak dari tulisan-tulisannya tentang masalah ini yang banyak dikutip dan dirujuk berbagai kalangan.
Judul buku ini yaitu “Fakih Yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” memang sebenarnya menggambarkan sosok beliau. Beliau memang ahli fikih sehingga disebut fakih, beliau juga seorang yang zuhud, sehingga pantas disebut zahid. Penggambaran kefakihan dan kezuhudan itu tergambar dalam tulisan-tulisan oleh kontributor yang berkontribusi dalam buku ini. Bila disimak dalam buku ini ada yang menulis tentang kepakaran beliau, ada yang menulis kontribusi dan pemikiran beliau, ada juga yang menulis tentang humanisme dan kesederhanaannya.
Buku“Fakih Yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” ini terdiri dari 5 bab. Bab pertama, “Kembara Hidup”, ada 7 tulisan, yang menggambarkan kisah hidup dan perjalanan Pak Syamsul, mulai dari keluarga (kedua orang tua), masa kecil di kampung halaman (Pulau Midai), belajar, guru-guru, desa kelahiran (Pulau Midai), dan lain-lain.
Bab kedua, “Totalitas Pengabdian di Tarjih”, ada 10 tulisan, bagian ini menggambarkan kepakaran dan keilmuan Pak Syamsul, mulai dari gagasan pengembangan manhaj tarjih, epistemologi Tafsir At-Tanwir, pengembangan metodologi keilmuan, hisab rukyat, kalender Islam global, dan isu-isu fikih dan keislaman kontemporer lainnya.
Bab ketiga, “Humanisme Ilmu”, ada 14 tulisan yang menggambarkan selain kedalaman dan kepakaran keilmuan beliau juga menggambarkan keluwesan dan keluasan cakrawala berfikir beliau. Di bagian ini para kontributor menulis berbagai sisi humanis dan keilmuan Pak Syamsul seperti diantaranya beliau dipandang sebagai pembaru fikih Muhammadiyah, pakar usulfikih yang ahli hadis, pakar makasid syariah, piawai dalam berinteraksi dengan turats, isu-isu ekonomi syariah, gender dan perempuan, dan lain-lain.
Bab keempat, “Esai-Esai Persembahan”, ada 4 tulisan, bagian ini berupa tulisan (artikel) ilmiah yang ditulis oleh sejumlah pakar yang dipersembahkan dalam buku ini. Diantaranya ditulis oleh Amin Abdullah yang mengangkat tema manhaj tarjih dan fresh ijtihad, lalu Ratno Lukito yang mengangkat diskursus kodifikasi hukum Islam. Lalu M. Abdul Fattah Santoso yang mengangkat tema Islam berkemajuan, dan Agus Purwanto yang mengangkat tema Trensains dan Ayat-Ayat Semesta. Bab kelima, “Sahabat Bertutur”, ada 22 tulisan, yaitu berisi apresiasi dan ucapan terimakasih dari kolega dan berbagai pihak atas ilmu dan pengabdian Pak Syamsul.
Pak Syamsul adalah seorang yang tekun dan pembelajar, ini diantaranya dituturkan secara langsung oleh keluarga (istri dan dua anaknya). Dalam “Talkshow Mengenal Syamsul Anwar Sang Intelektual, Ayah, dan Sahabat” (yang merupakan bagian dan rangkaian launching) yang dipandu Mas Mukhlis Rahmanto, dua anak Pak Syamsul memberi testimoni tentang sang Ayah, keduanya sepakat mengatakan bahwa Pak Syamsul adalah orang yang serius, dalam arti tekun belajar dan menelaah. Ketekunan dan keseriusan itu juga tak lupa dituturkan oleh sang istri tercinta beliau yang mengatakan adakalanya tatkala di rumah Pak Syamsul bisa membaca dan menulis dari pagi sampai malam. Secara alami dan naluri dalam momen itu Bu Syamsul menyampaikan dan mengingatkan kiranya ke depan Pak Syamsul menjaga kesehatan.
Secara pribadi dan terutama secara pemikiran saya sudah cukup mengenal Pak Syamsul, terutama melaui tulisan-tulisan beliau. Saya suka tulisan dan gaya penulisannya yang mengalir dan mudah dipahami, dan terutama ciri dan distingsi tulisan-tulisannya kerap menjaga orisinalitas dan autentisitas yang ditunjukkan dengan kutipan-kutipan literatur yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam tulisan-tulisannya beliau kerap menjaga khazanah yaitu dengan merujuk literatur-literatur turats Arab, namun saat yang sama mengomparasikannya dengan literatur dan temuan modern. Perpaduan dua bacaan ini menjadikan setiap tuliasannya bernas, dan kepiawaiannya dalam bahasa Arab dan Inggris menjadi kunci distingsinya ini.
Beliau saat ini mengemban amanah sebagai salah satu ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebuah jabatan persyarikatan yang terbilang besar dan berat, namun saya lebih melihat beliau sebagai sosok ulama dan akademisi ketimbang pimpinan persyarikatan, betapapun keduanya penting dan diperlukan. Karena itu saat beliau terpilih menjadi salah satu ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saya mendoakan beliau sehat dan dimudahkan dalam mengemban amanah besar ini. Suatu hari, saat kami berkomunikasi melalui telepon, saya ‘mengingatkan’ beliau semoga masih dan tetap menulis, beliau menjawab amin dan memohon doa. Karena itu pula tidak bisa saya pungkiri tatkala beberapa waktu lalu beliau sakit cukup parah sehingga harus di operasi serius secara medis, saya amat khawatir sembari berdoa kiranya beliau sehat. Alhamdulillah hingga saat ini, sampai beberapa hari lalu saat berjumpa dengan beliau dalam acara launching beliau sehat.
Dulu, saat beliau masih menjabat ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (MTT PP) Muhammadiyah pernah minta mundur dari jabatan ketua MTT PP, namun ditolak oleh PP Muhammadiyah. Di suatu momen saya bertanya kepada beliau apa alasan meminta mundur, saya bertanya dengan sedikit bercanda dengan kalimat “kenapa mundur pak? apa bapak main-main dan menggertak saja”? Dengan senyum beliau menjawab bahwa keinginannya mundur memang benar dan serius alias tidak main-main dan sama sekali tidak “menggertak-gertak”. Namun dibalik keinginan mundur itu terdapat alasan logis yaitu beliau ingin menulis. Saya masih ingat saat itu beliau mengatakan “sampai saat ini saya belum punya karya tulis yang spektakuler”. Karena itu disini tampak tipikal beliau yang sesungguhnya yaitu pembelajar, yang mengantarkannya menjadi fakih modern yang ingin lebih banyak bergelut dalam dunia literasi dan keilmuan. Namun patut dicatat sikap berjiwa besarnya menerima penolakan PP Muhammadiyah atas pengunduran dirinya menunjukkan keterbukaan dan kezuhudannya. Faktanya amanah sebagai ketua MTT PP ia selesaikan hingga tuntas.
Adapun perjumpaan saya pertama kali dengan Pak Syamsul adalah saat di Cairo (Mesir), saat saya menempuh studi, namun saya tidak ingat pertemuan itu tahun berapa, namun yang pasti sudah lebih 15 tahun yang lalu. Beliau datang ke Cairo dalam rangka riset yang ditugaskan oleh kampus tempat beliau mengabdi (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Saat itu beliau hadir di PCIM Cairo dan diminta memberi wejangan kepada kawan-kawan yang tergabung di PCIM Cairo. Saat itu saya belum bergabung ke PCIM, namun saya diundang oleh dua sahabat saya yaitu Cecep Taufikurohman (asal Jawa Barat) dan Metsra Wirman (asal Sumatera Barat), keduanya pengurus PCIM Cairo, Mesir. Dalam pertemuan itu Pak Syamsul menyampaikan banyak hal, salah satunya beliau menjelaskan tentang hisab dalam penentuan awal bulan, waktu salat, kiblat, gerhana, dan lain-lain. Saat menjelaskan fungsi dan peran hisab itu beliau menyebut dan meminta kepada saya agar dikoreksi jika pemaparan beliau ada yang keliru. Tidak dipungkiri hingga kini saya masih ingat momen itu. Hal itu bagi saya adalah sebuah apresiasi, untuk tidak mengatakan sanjungan, sehingga saya terus ingat. Sebab sejujurnya saat itu saya sendiri sesungguhnya sama sekali belum begitu paham dan menguasai berbagai persoalan falak yang beliau sampaikan oleh karena waktu itu saya juga masih belajar dan banyak hal yang belum saya pahami. Saya bersyukur hingga saat ini masih dapat berinteraksi dan terutama dapat belajar dengan Pak Syamsul, terutama melalui tulisan-tulisannya. Semoga beliau dan keluarga sehat wal afiat, amin[].


