Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Atsīr ad-Dīn al-Abhurī (w. 663 H/1265 M) adalah ilmuwan Muslim yang hidup di abad ke-7 H/13 M, dia adalah filsuf terkenal di dunia Islam. Karya-karya filsafatnya sangat populer dan banyak sarjana menuliskan komentar atas karya-karyanya. Ia juga dikenal sebagai guru besar dalam bidang filsafat dan memiliki banyak murid seperti Syams ad-Dīn Abū al-ʿAbbās Ahmad bin Muḥammad bin Khallikān (w. 1282 M), Najm ad-Dīn ʿAlī Dabīrāni al-Kātibī al-Qazwīnī (w. 1277 M), dan Syams al-Dīn Muhammad bin Asyraf al-Husaaini as-Samarqandī (w. 1302 M).Atsīr ad-Dīn al-Abhurī (w. 663 H/1265 M) adalah ilmuwan Muslim yang hidup di abad ke-7 H/13 M, dia adalah filsuf terkenal di dunia Islam. Karya-karya filsafatnya sangat populer dan banyak sarjana menuliskan komentar atas karya-karyanya. Ia juga dikenal sebagai guru besar dalam bidang filsafat dan memiliki banyak murid seperti Syams ad-Dīn Abū al-ʿAbbās Ahmad bin Muḥammad bin Khallikān (w. 1282 M), Najm ad-Dīn ʿAlī Dabīrāni al-Kātibī al-Qazwīnī (w. 1277 M), dan Syams al-Dīn Muhammad bin Asyraf al-Husaaini as-Samarqandī (w. 1302 M).
Dalam bidang sains, Al-Abhuri memiliki kontribusi dalam bidang astronomi, matematika, dan filsafat. Dalam astronomi diantaranya dia berkontribusi dalam instrumen astronomi bernama astrolabe (al-usthurlab), pengaruhnya dalam alat ini terlihat pada penguatan aspek teoretis-praktis. Diantara karyanya tentang astrolabe yaitu “Risāla fī Maʿrifah al-Usthurlāb” (Catatan Tentang Mengetahui Astrolabe) atau dikenal juga dengan “Risālah fī al-Usthurlāb”.Patut dicatat karyanya ini ditulis di bawah pengaruh kuat karya Kusyar al-Jily (w. 350 H/961 M) yang berjudul “Risālah fi al-Usthurlāb” (Catatan Tentang Astrolabe). Dengan menelaah dua karya ini tampak al-Abhurī secara dominan menggunakan karya Kusyar al-Jily sebagai acuan.
Keilmuan Al-Abhurī sejatinya tidak terbatas pada filsafat dan astronomi, namun dia juga mendalami dan menguasai matematika. Dia menulis sejumlah karya dalam bidang matematika dan astronomi seperti Risalah fi al-Hisab, Risalah fi al-Handasah, Risalah fi ‘Ilm al-Hai’ah, dan Risalah fi al-Usthurlab. Adapun karya Al-Abhuri yang terakhir ini (Risalah fi al-Usthurlab) terdiri atas 14 bab, yaitu:
- Bab satu: tentang definisi istilah-istilah teknis.
- Bab dua: tentang cara mengukur ketinggian Matahari dan bintang-bintang.
- Bab tiga: tentang mengetahui titik terbit berdasarkan ketinggian Matahari atau bintang-bintang.
- Bab empat: tentang mengetahui perputaran bola langit sejak terbit dan terbenamnya Matahari, serta mengetahui jam-jam yang telah berlalu pada malam dan siang hari.
- Bab lima: tentang mengetahui titik-titik utama dan lokasi lainnya di bola langit.
- Bab enam: tentang mengetahui busur siang dan busur malam serta jam-jamnya.
- Bab tujuh: tentang mengetahui kelebihan panjang malam atau siang.
- Bab delapan: tentang mengetahui waktu terbit derajat-derajat tanda zodiak dan cara mengonversi waktu terbit tersebut ke dalam derajat yang setara.
- Bab sembilan: tentang mengetahui cara mengonversi tahun-tahun dunia dan kelahiran.
- Bab sepuluh: tentang mengetahui deklinasi Matahari secara perkiraan.
- Bab sebelas: tentang mengetahui garis lintang suatu wilayah di Bumi.
- Bab dua belas: tentang mengetahui permulaan waktu asar dan batas akhirnya.
- Bab tiga belas: tentang mengetahui tinggi suatu objek yang dasarnya dapat dicapai.
- Bab empat belas: tentang mengetahui tinggi suatu objek yang dasarnya tidak dapat dicapai.
Di bagian pertama karyanya ini berisi pengantar tentang nama-nama bagian dan pelat pada astrolabe, disertai penjelasan singkat bagian-bagiannya. Berikutnya dijelaskan cara mempraktikkan astrolabe untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Dalam penjabarannya tampak kesan kuat bahwa karyanya ini sangat mirip dengan susunan karya Kusyar, baik dari segi urutan maupun narasi. Dengan membandingkan teks Al-Abhuri dan Kusyar ini kita menyadari bahwa substansi karya Al-Abhuri merupakan salinan dari sejumlah bagian dari karya Kusyar, meskipun Al-Abhuri tidak pernah menyebutkannya.

Salah satu lembar naskah “Risālah fī al-Usthurlāb” karya Atsīr ad-Dīn al-Abhurī (w. 663 H/1266 M)
Patut dicatat, di dunia Islam abad pertengahan para astronom yang memiliki pengetahuan tentang astrolabe mengusulkan banyak inovasi pada astrolabe. Akibatnya, setiap astrolabe memiliki fitur yang khas, sehingga secara teori setiap astrolabe memerlukan penjelasan tersendiri. Karya Al-Abhuri sendiri disusun untuk tujuan pengajaran (madrasah) dan penyeragaman pemahaman geometri bola langit, penjabaran prinsip teoretis astrolabe, penjabaran bola langit, horizon, meridian, ekliptika (dāʾirat al-burūj) dan ekuator langit (muʿaddil al-nahār), yang secara umum berguna dalam menentukan waktu, mengukur ketinggian benda langit, menentukan arah kiblat, dan mengetahui posisi Matahari, Bulan, dan bintang. Selain itu alat ini juga berguna untuk verifikasi dan ketepatan pengujian garis, lingkaran, dan skala, serta pentingnya presisi geometris.
Dalam konteks waktu itu karya Al-Abhuri ini terbilang ringkas, sistematis, dan mudah digunakan dalam pengajaran astronomi sehingga banyak dirujuk oleh pelajar. Selain itu, kebaruan karya ini terletak pada praktik instrumennya, bukan pada teorinya. Dalam konteks sejarah sains, Al-Abhurī terhitung sosok penguat kerangka konseptual dan pendidikan. Karyanya ini menjadi bagian dari tradisi transmisi astronomi dari abad ke-4 H/10 M hingga abad ke-8 H/14 M. Karya ini menunjukkan bahwa astronomi Islam adalah sains matematis-praktis, bukan spekulatif.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “Risāla fī al-Usthurlāb” karya Atsīr ad-Dīn al-AbhUrī ini adalah karya teknis tentang cara memahami dan menggunakan astrolabe, ditujukan untuk pengajaran dan praktik nyata, berpengaruh bukan karena teori-teorinya yang baru, tetapi karena keterikatannya dengan instrumen (alat). Karena itu pula karyanya ini mencerminkan budaya sains berbasis alat. Teks “RisālaH fī al-Usthurlāb” karya Al-Abhuri merupakan risalah teknis–pedagogis tentang astrolabe yang ditulis oleh seorang yang menguasai logika, matematika, filsafat, dan astronomi. Karya ini lahir dalam tradisi astronomi Islam pra-modern, yang menjadi instrumen utama untuk pengamatan langit, penentuan waktu, penetapan kalender, dan arah kiblat. Sejalan dengan banyaknya karya astrolabe lain yang ditulis sejak abad ke-4 H/10 M, karya Al-Abhurī berfokus pada prinsip dasar serta cara penggunaannya secara sistematis.
Secara struktural, kitab “Risālah fī al-Usthurlāb” ini menguraikan fondasi teoretis astrolabe yang berakar pada geometri bola langit, ekuator langit (mu’addil an-nahār), ekliptika (dāʾirah al-burūj), horizon, dan meridian. Selanjutnya, Al-Abhurī menjelaskan komponen-komponen utama astrolabe seperti induk astrolabe (al-umm), lempeng lintang (shafīhah), jaring bintang (al-ʿankabūt), dan penunjuk (ʿadhādah), serta fungsi masing-masing dalam pengukuran astronomi.
Karya ini juga memuat prosedur praktis untuk menentukan waktu, mengukur ketinggian benda langit, serta mengetahui posisi Matahari, Bulan, dan bintang. Meskipun dari sisi isi karya ini memiliki kemiripan dengan karya Kusyar, kebaruan karya ini tidak terletak pada penemuan teori baru, namun pada aplikasi praktisnya. Riset modern menunjukkan bahwa Al-Abhurī menyusun karyanya ini dengan mengandaikan penggunaan sebuah astrolabe. Dengan demikian karya ini tidak bersifat umum-universal, melainkan terikat pada spesifikasi sebuah instrumen tertentu. Aplikasi praktis terhadap instrumen astrolabe inilah yang menjelaskan mengapa banyak ilmuwan Muslim tetap menulis risalah praktik astrolabe meskipun kontennya tampak serupa, dalam hal ini setiap risalah berfungsi sebagai panduan untuk instrumen tertentu pula.
Dalam konteks sejarah sains Islam, Risālah fī al-Usthurlāb mencerminkan budaya keilmuan yang menempatkan instrumen sebagai pusat praktik ilmiah. Astrolabe bukan sekadar alat bantu, melainkan medium yang menyatukan teori matematika, observasi empiris, dan kebutuhan sosial-keagamaan. Melalui pendekatan pedagogisnya yang ringkas dan sistematis, karya Al-Abhurī berperan penting dalam transmisi dan standardisasi astronomi di kalangan pelajar (madrasah) dan para ahli. Oleh karena itu, teks ini menjadi bukti bahwa astronomi Islam abad pertengahan merupakan sains matematis-praktis yang berkembang melalui interaksi erat antara teks, instrumen, dan praktik. Wallahu aa’lam[]



