Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Kitab “Ahsan at-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim” adalah salah satu karya penting dalam bidang geografi klasik yang ditulis oleh ilmuwan Muslim bernama Al-Maqdisi (Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi) pada abad ke- 4 H/10 M (wafat sekitar tahun 380 H/990 M). Kitab ini menggabungkan perjalanan (rihlah), observasi, dan analisis geografis-navigasi berbagai tempat. Kitab ini menjadi sumber utama memahami lokasi, posisi, dan kondisi dunia secara komprehensif. Al-Maqdisi adalah seorang geografer pengembara yang banyak menjelajahi wilayah-wilayah dunia, karyanya ini merupakan hasil riset dan observasinya secara langsung. Kitab ini dianggap sebagai salah satu karya geografi paling lengkap pada masanya, dan menjadi rujukan penting bagi sejarawan dan geografer modern.

Lembar judul naskah “Ahsan at-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim” karya Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi (w. 380 H/990 M)

Versi cetak kitab “Ahsan at-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim” karya Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi (Cairo: Maktabah Madbuli, cet. III, 1411 H/1991 M)
Secara substansi kitab ini mendeskripsikan topografi-geografi berbagai wilayah dunia (aqalim), yang memuat informasi kota-kota penting, budaya masyarakat, tradisi ekonomi dan perdagangan, serta kondisi sosio-religius masyarakat ketika itu. Selain itu, kitab ini juga memuat informasi seperti kondisi jalan, mata uang, bahasa, serta mazhab-mazhab keagamaan yang berkembang di tiap wilayah. Keunggulan kitab ini adalah ditulis secara deskriptif, analitis, dan sistematis, dengan menggunakan analisis ilmiah dan praktik langsung. Adapun wilayah-wilayah yang di deskripsikan Al-Maqdisi meliputi wilayah Syam (Suriah), Irak, dan Mesir.
Secara garis besar, Al-Maqdisi mengonstruksi karyanya ini sebagai panduan praktis navigasi klasik yang notabenenya merupakan inisiasi dan inspirasi konsep awal dan dasar navigasi-GPS modern. Al-Maqdisi menyatakan,
وهو ذكر الأقاليم الإسلامية وما فيها من المفاوز والبحار والبحيرات والأنهار، ووصف أمصارها المشهورة، ومدنها المذكورة، ومنازلها المسلوكة، وطرقها المستعملة، وعناصر العقاقير والآلات ومعادن الحمل والتجارات، واختلاف أهل البلدان في كلامهم وأصواتهم وألسنتهم وألوانهم ومذاهبهم ومكابيلهم وأوزانهم ونقودهم وصروفهم وصفة طعامهم وشرابهم وثمارهم ومياهم ومعرفة مفاخرهم وعيوبهم وما يحمل من عندهم وإليهم وذكر مواضع الأخطار في المفازات، وعدد المنازل في المسافات، وذكر السباخ والصلاب والرمال، والتلال والسهول والجبال، والحواوير والسماق والسمين منها والرقاق، ومعادن السعة والخصب ومواضع الضيق والجدب، وذكر المشاهد والمراصد والخصائص والرسوم، والممالك والحدود والجروم والمخاليف الزمزم والطساسيج والتخوم والصنائع والعلوم، والمباخس والمشاجر والمناسك والمشاعر، وعلمت أنه باب لا بد منه للمسافرين والتجار، ولا غني عنه للصالحين والأخيار إذ هو علم ترغب فيه الملوك والكبرى، وتطلبه القضاة والفقهاء، وتحبه العامة والرؤساء وينتفع به كل مسافر
“Yaitu penjelasan tentang wilayah-wilayah Islam dan apa yang ada di dalamnya berupa padang-padang luas (gurun), laut, danau, dan sungai; serta deskripsi kota-kota besarnya yang terkenal, dan negeri-negerinya yang disebutkan; tempat-tempat singgah yang dilalui, serta jalan-jalan yang digunakan. Juga tentang bahan-bahan obat dan alat-alat, sumber-sumber kekayaan dan perdagangan; serta perbedaan penduduk tiap negeri dalam bahasa, suara, dialek, warna kulit, mazhab, ukuran-ukuran mereka, timbangan, mata uang, dan sistem transaksi mereka. Selain itu, dijelaskan pula sifat makanan, minuman, buah-buahan, dan air mereka; pengetahuan tentang kelebihan dan kekurangan mereka; serta apa saja yang dibawa dari dan ke negeri mereka. Disebutkan pula tempat-tempat berbahaya di padang-padang luas, jumlah tempat singgah dalam jarak perjalanan; serta jenis tanah seperti rawa asin, tanah keras, dan pasir; juga bukit, dataran rendah, dan pegunungan; serta berbagai jenis tumbuhan dan hasil bumi, yang subur maupun yang kurang subur. Begitu pula sumber-sumber kemakmuran dan kesuburan, serta daerah-daerah sempit dan tandus; tempat-tempat penting, pos pengamatan, ciri-ciri khas wilayah, dan adat kebiasaan; kerajaan-kerajaan, batas-batas wilayah, daerah-daerah administratif, serta berbagai pembagian wilayah, perbatasan, industri, dan ilmu pengetahuan. Juga berbagai persoalan ekonomi, perselisihan, tempat-tempat ibadah, dan lokasi-lokasi ritual. Dan aku mengetahui bahwa hal ini merupakan suatu bidang yang sangat dibutuhkan oleh para musafir dan para pedagang, serta tidak dapat diabaikan oleh orang-orang saleh dan terhormat. Karena ilmu ini diminati oleh para raja dan pembesar, dicari oleh para hakim dan ahli fikih, disukai oleh masyarakat umum dan para pemimpin, serta memberikan manfaat bagi setiap musafir” (h. 1-2)
Dalam teks ini Al-Maqdisi mendeskripsikan sejumlah lokasi dan kondisi, antara lain penggambaran laut, sungai, padang, kota, jalan, tambang, dan perdagangan, yang dalam Google Maps modern ibarat layer geografis, layer transportasi, layer ekonomi, dan map layer. Al-Maqdisi juga memberi gambaran konsep rute atau penentuan rute (tempat singgah dan jalan yang bisa dan biasa dilalui). Adapun ‘rute’ ditunjukkan dengan pernyataan Al-Maqdisi (وطرقها المستعملة) “wa thuruquha al-musta’milah” (jalan-jalan yang biasa digunakan), lalu ‘tempat singgah’ dengan kalimat (ومنازلها المسلوكة) “wa manaziluha al-maslukah” (tempat-tempat singgah yang dilalui), lalu ‘estimasi jarak’ dengan pernyataan (وعدد المنازل في المسافات) “wa ‘adad al-manazil fi al-masafat” (jumlah tempat singgah dalam suatu jarak). Demikian lagi ‘identifikasi titik bahaya’ dengan pernyataannya (مواضع الأخطار في المفازات) “mawadhi’ al-akhthar fi al-mafazat” (lokasi berbahaya di padang pasir). Dengan informasi ini, dalam konteks waktu itu, bagi musafir yang akan melalui suatu daerah agar mempertimbangkan rute lain yang lebih aman dan terhindar dari daerah rawan, yang dalam konsep Google Maps hari ini disebut dengan “risk mapping”.
Dalam deskripsi Al-Maqdisi di atas juga terdapat informasi terkait kondisi geografis penentu rute yaitu dengan pernyataannya “as-sibakh wa ash-shalab wa ar-ramal wa as-suhul wa al-jibal” السباخ والصلاب والرمال والتلال والسهول والجبال . Pernyataan ini, sebagaimana diuraikan Al-Maqdisi, menggambarkan jenis tanah (pasir, tanah keras, rawa) dan topografi (gunung, dataran, bukit). Artinya menurut Al-Maqdisi tidak semua jalan bisa dilalui semua jenis kendaraan, yang waktu itu unta, kuda, himar, kafilah, dan pejalan kaki.
Al-Maqdisi juga menggambarkan pentingnya ketersediaan sumber daya, yaitu dengan pernyataannya “miyahu… tsimaruhum, ma’adin as-si’ah wa al-khashab wa mawadhi’ adh-dhaiq wa al-jadb” مياهم… ثمارهم… معادن السعة والخصب ومواضع الضيق والجدب (air mereka… buah-buahan mereka… sumber-sumber kekayaan dan kesuburan, serta tempat-tempat sempit dan kering). Dengan pernyataan ini menggambarkan bahwa rute yang dipilih dalam perjalanan adalah dengan mempertimbangkan ketersediaan kuliner (ketersediaan air dan makanan) dan lalu mempertimbangkan iklim wilayah yang bersahabat.
Al-Maqdisi juga memberi deskripsi terhadap salah satu kota penting di dunia Islam yaitu Syam (Suriah) yang notabenenya telah ia survei secara langsung. Ia mendeskripsikan kota-kota, jalan-jalan, dan rute-rute yang ada. Al-Maqdisi mendeskripsikan jalan-jalan di wilayah ini yang mana ia menggambarkannya sebagai kota yang ramai dan rutenya jelas, selain itu banyak terdapat desa dan tempat singgah dengan fasilitas air (rekreasi dan kuliner), sehingga orang yang datang akan dengan mudah menemukan arah (rute) karena berada di kawasan permukiman penduduk.
Al-Maqdisi juga menggambarkan wilayah Syam sebagai daerah yang subur dan indah, pusat ilmu dan peradaban, memiliki kota-kota penting, memiliki hasil bumi, dan memiliki sejarah dan keutamaan religius. Ada banyak lokasi dan destinasi (kota, masjid, gunung, sungai, makam, dan lain-lain) dengan deskripsinya masing-masing. Demikian lagi informasi tentang kekayaan alam Syam seperti sungai, kebun, buah-buahan, dan kesuburan tanah.
Berikut nukilan pernyataan Al-Maqdisi terkait hal ini,
أقاليم الشام . إقليم الشام جليل الشأن ديار النبيين، ومركز الصالحين، ومعدن البلاد، ومطلب الفضلاء به القِبلة الأولى، وموضع الحشر والمسرى، والأرض المقدسة، والرباطات الفاضلة، والثغور الجليلة، والجبل الشريفة ، ومهاجر إبراهيم وقبره وديار أيوب وبئره ومحراب داود وبابه وعجائب سليمان، ومدفه وتربة إسحق وأمه ومولد المسيح ومهده وقرية طالوت ونهره ومقتل جالوت وحصنه وجب أرميا وحبسه ومسجد أوريا وبيته وقبة محمد وبابه وصخرة موسى وربوة عيسى ومحراب زكريا ومعرك يحيى ومشاهد الأنبياء وقرى أيوب ومنازل يعقوب والمسجد الأقصى وجبل زيتا …
“Wilayah Syam. Wilayah Syam adalah negeri yang agung kedudukannya: tanah para nabi, pusat orang-orang saleh, dan sumber negeri-negeri yang makmur. Di dalamnya terdapat kiblat pertama, tempat berkumpulnya manusia (di akhir zaman), dan tempat perjalanan malam (Isra). Ia adalah tanah suci, tempat ribath (penjagaan di jalan Allah) yang utama, wilayah perbatasan yang penting, dan gunung-gunung yang mulia. Di sana terdapat tempat hijrah Nabi Ibrahim dan makamnya; negeri Nabi Ayyub dan sumurnya; mihrab Nabi Dawud dan gerbangnya; keajaiban Nabi Sulaiman; makam Nabi Ishaq dan ibunya; tempat kelahiran Nabi Isa dan ayunannya; desa Thalut dan sungainya; tempat terbunuhnya Jalut dan bentengnya; sumur Nabi Armiya dan penjaranya; masjid Nabi Uria dan rumahnya; kubah Nabi Muhammad dan gerbangnya; batu Nabi Musa; dataran tinggi Nabi Isa; mihrab Nabi Zakaria; tempat pertempuran Nabi Yahya; situs-situs para nabi; desa-desa Nabi Ayyub; tempat tinggal Nabi Yaqub; Masjid Al-Aqsa; Gunung Zaita, dan lain-lain” (h. 151).
Adapun relevansinya dengan GPS, navigasi modern, atau Google Maps adalah pada aspek deskripsi lokasi. Deskripsi Al-Maqdisi menyebut wilayah (Syam) dan segenap yang ada di dalamnya (kota, desa, sungai, pusat perdagangan, dan lain-lain). Dalam GPS, ini mirip dengan peta jaringan rute dan wilayah. Sementara itu deskripsi alam seperti sungai, gunung, lembah dan lainnya, dalam Google Maps dikenal dengan lapisan data geografis (terrain layer). Karena itu deskripsi Al-Maqdisi ini adalah bentuk “peta verbal kuno” yang diterjemahkan ke dalam sistem modern GPS dan Google Maps sebagai data lokasi, wilayah, dan hubungan spasial antar tempat.
Al-Maqdisi juga mendeskripsikan wilayah Irak, ia menggambarkannya sebagai berikut,
إقليم العراق . هذا إقليم الظرفاء، ومنبع العلماء، لطيف الماء، عجيب الهواء، ومختار الخلفاء، … أليس به البصرة التي قُوبِلت بالدنيا، وبغداد الممدوحة في الورى، والكوفة الجليلة … والبادية إلى جانبه كما ترى، والفرات بقربه من حيث جرى، … والله أعلم وأحكم
“Wilayah Irak. Ini adalah wilayah para orang cerdas, sumber para ulama, airnya jernih, udaranya menakjubkan, dan tempat terpilih para khalifah … Bukankah di dalamnya ada Basrah yang disandingkan dengan dunia, dan Baghdad yang dipuji di seluruh dunia, lalu Kufah yang agung … Padang pasir berada di sampingnya sebagaimana engkau lihat, dan Sungai Efrat dekat dengannya sebagaimana alirannya… dan Allah lebih mengetahui dan lebih bijaksana” (h. 113).
Disini Al-Maqdisi menyebut banyak entitas geografis yaitu Basrah, Baghdad, Efrat,dan wilayah gurun (badiyah). Artinya, teks ini bisa diterjemahkan menjadi lapisan peta (map layer). Dalam teks ini juga terdapat deskripsi spasial (dekat, jauh, wilayah gurun, dan lain-lain) atau dasar sistem navigasi yang ditunjukkan dengan kalimat “Efrat mengalir di dekat wilayah itu” (al-furat yaqrib min haitsu jara), lalu “gurun berada di sampingnya” (al-badiyah ila janibihi). Dalam GPS dan navigasi modern, ini mirip dengan estimasi jarak, analisis rute, dan perbandingan jarak-wilayah, dan seterusnya.
Demikian sekilas karya Al-Maqdisi yang memiliki korelasi dan relevansi dengan konsep navigasi modern, GPS, dan Google Maps. Survei dan pengamatan langsung Al-Maqdisi merupakan bentuk awal dari usaha manusia memahami dan memetakan lokasi dan ruang, yang menjadi dasar bagi sistem navigasi-GPS. Berbagai data (wilayah dan lokasi) yang dijelaskan secara naratif-deskriptif, kini diubah dan divisualisasikan menjadi titik koordinat dan bentuk peta digital (Google Maps). GPS mengubah deskripsi “kata-kata” dan atau “narasi” menjadi angka koordinat. Kesamaan konsep GPS dan Google Maps dengan apa yang ditulis Al-Maqdisi adalah dalam hal penentuan lokasi, hubungan antar wilayah, dan mobilitas manusia. Karena itu karya Al-Maqdisi ini dapat dianggap sebagai cikal bakal pemikiran geografis-navigatif yang menginisiasi lahirnya GPS dan Google Maps. Wallahu a’lam[]
*Sumber: Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi, Ahsan at-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim (Cairo: Maktabah Madbuli, cet. III, 1411 H/1991 M).



