• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Kolom

Astronomi Era Kerajaan Fatimiyah

Admin Website by Admin Website
December 29, 2025
in Kolom
0
Astronomi Era Kerajaan Fatimiyah
556
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU

Mesir pada masa pemerintahan Kerajaan Fatimiyah mengalami kemajuan ilmiah yang signifikan. Astronomi mendapat perhatian besar dari para khalifah Fatimiyah, yang mendorong didirikannya sejumlah observatorium dengan dukungan para astronom handal. Observatorium sendiri menjadi sarana penting pengamatan benda-benda langit, selain sebagai sarana perhitungan kalender, penentuan waktu, serta kajian benda-benda langit seperti Matahari, Bulan, dan planet-planet. Para astronom Fatimiyah waktu itu mencapai tingkat ketelitian observasi yang tinggi sehingga karya-karya dan hasil-hasil riset langit mereka memiliki pengaruh luas di dunia Islam. Selain mendirikan observatorium, para raja ketika itu juga mendukung penelitian ilmiah dan mempekerjakan banyak astronom terkemuka. Hal ini menjadikan Mesir secara umum sebagai salah satu pusat utama ilmu astronomi di dunia Islam. Hal ini didukung pula dengan keberadaan Mesir yang menjadi pusat politik, keagamaan, dan ilmiah yang sangat penting di dunia Islam waktu itu.

Para sejarawan sendiri membagi sejarah astronomi Arab-Islam dalam beberapa tahap, yaitu: tahap awal (sampai 132 H/750 M), tahap penerjemahan (sejak 132 H/750 M sampai 287 H/900 M), zaman keemasan (sejak 287 H/900 M sampai 596 H/1200 M), dan masa kemunduran (setelah 596 H/1200 M). Periode Dinasti Fatimiyah sendiri yaitu tahun tahun 358-567 H/969-1171 M berada dalam zaman keemasan astronomi, yang mana kegiatan observasi dan penelitian ilmiah berkembang pesat dan masif. Dinasti Fatimiyah waktu itu memberikan perhatian khusus terhadap sains astronomi, mendirikan observatorium, serta mendukung para ilmuwan yang berkecimpung di dalamnya.

Para khalifah Fatimiyah memberikan perhatian besar terhadap astronomi oleh karena keterkaitannya dengan urusan keagamaan yaitu terkait penentuan waktu, kalender, dan bahkan administrasi negara. Dari sini lahirlah kebijakan mendirikan berbagai lembaga ilmiah, masjid, dan pusat-pusat pendidikan, selain menarik para ilmuwan dari berbagai wilayah Islam untuk menetap dan bekerja di Mesir. Selain itu para ilmuwan Muslim pada masa itu memiliki kebebasan akademik dan intelektual yaitu dalam mengemukakan kritik dan pandangan baru, meskipun bertentangan dengan pendapat yang telah mapan. Sikap ini mencerminkan kebebasan berpikir dan semangat ilmiah yang kuat dalam peradaban Islam.

Khalifah Fatimiyah pertama di Mesir adalah al-Muʿizz li-Din Allah, ia membangun kota Cairo dan menjadikannya ibu kota baru. Ia juga mendirikan Masjid al-Azhar, yang kemudian berkembang menjadi pusat pengajaran ilmu-ilmu agama dan sains. Sejak saat itu aktivitas ilmiah berkembang di Mesir. Regulasi dan kebijakan Kerajaan Fatimiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan berlanjut pada masa khalifah-khalifah berikutnya. Dalam praktiknya negara (kerajaan) menyediakan gaji bagi para ulama dan ilmuwan, pembangunan perpustakaan digalakkan, serta mendorong penulisan dan penyalinan buku. Para ilmuwan Mesir dan yang datang dari wilayah lain memperoleh kebebasan intelektual untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Selain itu, Mesir era Fatimiyah juga menjadi tempat bertemunya berbagai tradisi keilmuan mulai dari Yunani, Persia, India, dan Arab secara umum, yang disintesis dalam kerangka pemikiran Islam. Hal ini tak ayal menghasilkan lingkungan intelektual yang hidup dan bertumbuh, tanpa terkecuali dalam bidang astronomi, matematika, dan ilmu-ilmu alam lainnya. Pada masa ini pula muncul sejumlah astronom besar Fatimiyah seperti Ibn Yunus (w. 399 H/1009 M), yang dikenal karena ketelitian riset langit dan kontribusinya dalam penyusunan tabel astronomi (zij) yang sangat akurat. Ibn Yunus punya kontribusi besar dalam perhitungan gerhana, dan selama hidupnya ia melakukan banyak penelitian dalam bidang matematika. Ia berhasil menyelesaikan persoalan-persoalan sulit dalam perhitungan gerhana bulan, serta menerapkannya secara praktis dengan proyeksi bola langit pada bidang datar, baik pada bidang horizontal maupun vertikal. Ia juga menyusun kaidah-kaidah dan persamaan matematika yang memiliki arti penting sebelum ditemukannya logaritma. Hal ini mempermudah penyelesaian banyak persoalan yang rumit dalam matematika. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai salah satu pelopor penemuan logaritma, dan hingga sekitar tahun 1800 M ilmuwan Prancis Laplace masih memanfaatkan karya-karya dan konsep-konsep Ibn Yunus ini dalam penelitiannya.

Ilmuwan lainnya yaitu Ibn al-Haitsam (w. 430 H/1038 M), yang juga ilmuwan besar dalam sejarah Islam era Fatimiyah. Ibn al-Haitsam lahir di Basrah sekitar pertengahan abad ke-4 H/10 M (sekitar 965 M). Ia kemudian pindah dan tinggal di Cairo pada masa pemerintahan Khalifah Fatimiyah, dia banyak melakukan riset ilmiah, bahkan sebagian besar karyanya ditulis saat di Mesir, dan karya-karyanya menjadi rujukan utama dalam ilmu optika hingga sekitar abad ke-11 H/17 M. Pada masa itu, ilmu ini dikenal dengan nama “’ilm al-manazhir” (ilmu optika).

Pada awalnya Ibn al-Haitsam datang ke Mesir dengan niat melaksanakan proyek pengaturan Sungai Nil, karena ia yakin bahwa pengendalian banjir Nil akan membawa manfaat besar bagi rakyat Mesir ketika itu. Niatnya ini disambut antusias oleh raja, Al-Hakim bi-Amr Allah, yang memanggilnya dan memintanya untuk merealisasikan gagasannya tersebut. Namun setelah melakukan kajian lapangan, Ibn al-Haitsam menyadari bahwa proyek ini sulit dilaksanakan dengan teknologi yang tersedia saat itu dan akhirnya proyek ini memang gagal. Akibatnya ia dikenai tahanan, yang mana selama masa tahanan ini ia menulis sebagian besar karya-karyanya. Tatkala Al-Hakim wafat dan digantikan oleh Al-Zahir, Ibn al-Haitsam akhirnya dibebaskan.

Diantara kontribusi Ibn al-Haitsam adalah intensitasnya dalam menyalin karya-karya Euclid dan Ptolemeus. Selain itu dia menyadari kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam pandangan dua tokoh besar ini, dia mengkritisi dan menunjukkan letak kekeliruan keduanya. Ibn al-Haitsam menolak pendapat Euclid dan Ptolemeus yang menyatakan bahwa mata memancarkan sinar ke arah objek sehingga memungkinkan terjadinya penglihatan. Menurutnya pendapat tersebut keliru, ia menegaskan bahwa mata tidak memancarkan sinar, dan bahwa sinar bukanlah penyebab penglihatan. Sebaliknya, objek yang terlihatlah yang memantulkan cahaya ke arah mata, dan cahaya itulah yang masuk ke dalam mata melalui lensa, sehingga memungkinkan terjadinya proses penglihatan.

Selain dua tokoh ini (Ibn Yunus dan Ibn al-Haitsam), Ali bin Ridwan atau Ibn Ridwan juga termasuk ilmuwan besar era Fatimiyah yang memberikan kontribusi penting dalam bidang astronomi dan ilmu-ilmu alam. Ali bin Ridwan dikenal sebagai sosok yang menaruh perhatian besar pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pengamatan langit dan fenomena alam, serta berusaha menjelaskannya secara rasional dan ilmiah. Ibn Ridwan menekankan pentingnya pengamatan langsung dan pengalaman empiris dalam memperoleh pengetahuan ilmiah. Ia mengkritik kecenderungan sebagian ilmuwan yang bergantung pada teori-teori lama tanpa melakukan verifikasi melalui observasi. Menurutnya, kebenaran ilmiah harus diuji dengan pengamatan dan pembuktian, bukan hanya dengan mengikuti pendapat dan otoritas ilmuwan terdahulu. Ia juga menaruh perhatian dengan banyak melakukan riset gerak benda-benda langit, khususnya matahari, bulan, dan planet-planet, serta pengaruhnya terhadap fenomena alam di bumi. Dalam pandangannya, pemahaman yang benar tentang alam semesta menuntut ketelitian observasi dan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan. Ibn Ridwan juga punya telaah dalam kajian kosmologi seperti pengkajian bentuk bumi, struktur alam semesta, dan hubungan antara langit dan bumi. Ia berusaha menjelaskan fenomena alam dengan pendekatan rasional yang berpijak pada hukum-hukum alam, bukan pada spekulasi metafisik semata.

Demikian sekilas perkembangan astronomi di zaman Fatmiyah dengan review tiga tokoh utamanya. Dari uraian singkat di atas tampak bahwa dalam bidang astronomi Kerajaan Fatimiyah mendukung kegiatan riset dan observasi langit dengan menyediakan sarana, alat, dan lokasi pengamatan. Dengan segenap capaian yang ditunjukkan sejumlah tokoh (ilmuwan/astronom) yang ada tampak bahwa Mesir pada masa Fatimiyah menjadi salah satu pusat utama astronomi dunia. Buah dari peran penguasa dan kehandalan para astronomnya adalah berkembangnya ilmu pengetahuan, lahirnya keterbukaan intelektual, dan tumbuhnya integrasi antara kebutuhan keagamaan dan kepentingan administratif. Al-Hakim bi-Amr Allah, raja Fatimiyah ketika itu, dikenal sebagai penguasa yang memiliki perhatian dan cenderung pada sains, hikmah, dan filsafat, menjadi faktor utama berkembangnya astronomi di era Fatimiyah. Wallahu a’lam[]

Previous Post

Kunjungan dari Mahasiswa Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai

Next Post

OIF UMSU Terima Kunjungan dari Kabupaten Kampar, Riau

Next Post
OIF UMSU Terima Kunjungan dari Kabupaten Kampar, Riau

OIF UMSU Terima Kunjungan dari Kabupaten Kampar, Riau

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU