• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Terjemah Arab Teks Astronomi Almagest karya Ptolemeus

Admin Website by Admin Website
August 30, 2024
in Artikel, Kolom
0
Terjemah Arab Teks Astronomi Almagest karya Ptolemeus
588
SHARES
2.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU

Sekitar tahun 150 M, Claudius Ptolemeus, seorang astronom dan astrolog asal Yunani, menulis sebuah karya spektakuler dalam astronomi-astrologi yang hari ini dikenal dengan “Almagest” (Arab: al-Majisthy), ditulis tatkala di Iskandariah, Mesir. Karya ini dalam beberapa abad menjadi karya viral dan fenomenal tentang astronomi dan segala pengetahuan yang berkaitan dengannya, banyak dirujuk terutama di Eropa dalam waktu 1500 tahun lebih.

Buku ini adalah diantara khazanah ilmiah Yunani yang banyak diterjemah ke bahasa Arab di terutama di timur (asy-syarq al-adna) pada akhir abad ke-8 M sampai abad ke-10 M, dimana di periode abad ini telah lahir karya-karya astronomi dan astrologi, dimana satu diantaranya adalah Almagest karya Ptolemeus ini. Dalam etimologi Yunani, judul buku ini adalah “Mathematiké Sýntaxis” yang bermakna ‘komposisi matematika’ (Arab: at-takwin ar-riyadhy), selain juga ditemukan sebuah manuskrip berjudul “Megále Sýntaxis” yang bermakna ‘komposisi agung’ (Arab: at-takwin al-kabir) yang juga diduga merupakan teks asli Almagest.

Dalam kenyataannya, secara historis terbukti bahwa orang-orang Arab sejatinya telah mengenal sosok Ptolemeus dan karyanya ini sebelum mereka mengkaji dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Para intelektual Arab diantaranya mengetahui karya ini melalui persentehuhan mereka dengan khazanah Persia. Secara historis tampak bahwa istilah-istilah Arab Almagest karya Ptolemeus ini terderivasi dari bentuk Persia Tengah (Pahlevi), betapapun tetap bersumber secara langsung dari bentuk asli bahasa Yunani. Seperti dieketahui ada tiga khazanah yang amat memengaruhi ilmu pengetahuan Islam yaitu India, Yunani, dan Persia. Karena itu pula dalam perkembangannya ada ragam penuturan atas Almagest ini di kalangan orang-orang Arab.

Dalam perkembangannya ada banyak kajian yang dilakukan atas terjemah Arab karya ini, diantaranya dilakukan oleh Abu al-Futhuh Ahmad bin Muhammad bin ash-Shalah, yang wafat di Damaskus, Suriah, tahun 1154 M. Dia menulis kekeliruan dan kesalahan transfer nama-nama (katalog) bintang yang ada dalam Almagest. Tidak tanggung-tanggung kajiannya ini didasarkan kepada manuskrip-manuskrip asli yang ada waktu itu, dalam hal ini ia menggunakan 5 terjemah Almagest, seluruhnya merupakan terjemah dari teks Yunani yang asli. Dari 5 terjemah itu yang paling utama adalah terjemah dalam bahasa Suryani, yang para peneliti menyebutkanya hari ini terhitung hilang, lalu terjemah Arab oleh Al-Hajjaj, lalu terjemah Arab oleh Ishaq bin Hunain, lalu terjemah Arab Ishaq bin Hunain yang diedit oleh Tsabit bin Qurrah.

Naskah terjemah Almagest oleh Al-Hajjaj (Add. MS 7474), p. 23 ظ

Menurut Paul Kunitzsch, dari 5 naskah ini, 3 diantaranya telah hilang yaitu naskah Suryani, naskah Arab awal, dan naskah Ishaq bin Hunain yang dipersembahkan kepada Shalih Abu ash-Shaqr bin Bilbil, seorang Menteri Khalifah Al-Mu’tamad yang memerintah tahun 870-982 M, yang merupakan terjemah murni tanpa koreksi Tsabit bin Qurrah. Dalam faktanya kita tidak mengetahui naskah-naskah itu kecuali melalui informasi dan catatan bibliografis serta melalui berbagai sumber yang beraneka ragam. Karena itu pula naskah-naskah terjemah karya ini masih ada dan digunakan serta dicetak ulang yaitu bagian katalog bintang yang terdapat di dua bab (7 dan 8) dari teks Almagest. Sementara itu 2 naskah terjemah Al-Hajjaj bin Yusuf bin Mathar (yang terbit tahun 212 H/828 M) terbit atas bantuan Sergius bin Elias di Bagdad, demikian lagi terjemah Ishaq yang diedit Tsabit bin Qurrah. Naskah Al-Hajjaj sendiri satu diantaranya legkap, sementara terjemah Ishaq dan Tsabit, yang seluruhnya ada 10 naskah, 3 diantaranya lengkap.

Bagiana awal daftar (katalog) bintang teks Almagest karya Ptolemeus. Ini merupakan naskah Ishqa/Tsabit, dimana daftar (katalog) nama-nama bintang berasal dari naskah Al-Hajjaj (Add. MS 7475, p. 15 ظ)

Tidak dipungkiri, para penerjemah Almagest yaitu Al-Hajjaj, Ishaq bin Hunain, dan Tsabit bin Qurrah, mereka memahami dengan baik sejarah ilmu pengetahuan Arab-Islam, yang membantu mereka dalam menerjemahkan dan mengkaji teks Almagest dalam konteks Arab-Islam. Tercatat, selain menerjemahkan Almagest ke dalam bahasa Arab, mereka juga telah menerjemahkan karya-karya ilmiah Yunani lainnya diantaranya ke bahasa Suryani sebelum terjemah ke bahasa Arab. Ishaq dan Tsabit selain menerjemah teks-teks sains Yunani juga menulis karya ilmiah yang diasosiasikan kepada mereka dalam berbagai bidang pengetahuan.

Perkembangan berikutnya, tepatnya pada abad ke-12 M di Toledo (Andalusia-Spanyol), teks Almagest diterjemah dari bahasa Arab ke bahasa Latin oleh Gerard Cremona (w. 1187 M). Terjemah ke bahasa Latin ini tak ayal membuka jalan dunia Eropa dan Amerika mengenal dan mendalami astronomi secara komprehensif. Bagian yang diterjemah adalah terjemah Arab Al-Hajjaj yaitu bagian 1-9, lalu terjemah Arab Ishaq dan Tsabit bagian 10-13. Dalam terjemahnya, Gerard Cremona memedomani naskah Arab yang berbeda-beda, yang terbilang cukup banyak, selama dia berada di Toledo ketika itu. Toledo, secara umum Andalusia-Spanyol, kala itu memang tengah menjadi pusat pengetahuan dan intelektual dunia, sehingga banyak orang yang berdatangan ke negeri ini. Secara historis, Andalusia memang menjadi jalan berkembangnya dunia ilmu pengetahuan barat yang diantaranya melalui peran terjemah-terjemah berbagai ilmu pengetahuan yang ditulis oleh intelektual-intelektual Arab ketika itu dan jauh sebelumnya.

Almagest dalam terjemah bahasa Latin, terbit tahun 1515

Selain Gerard Cremona, tentu ada banyak lagi terjemah maupun kajian yang dilakukan atas teks Almagest karya Ptolemeus ini yang tidak terdeteksi oleh peneliti maupun tidak tercatat dalam karya-karya para penulis (bibliografer), namun dipastikan jumlahnya ada cukup banyak. Namun yang pasti karya Almagest memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kajian astronomi di dunia Islam. Dari uraian ini pula dapat disimpulkan beberapa hal berikut: Pertama, persentuhan Arab (Islam) pertama kali terhadap dunia ilmu pengetahuan (sains), diantaranya astronomi, pada dasarnya berasal dari khazanah pra-Islam, dalam hal ini diantaranya khazanah Yunani. Kedua, proses terjemah yang masif-intensif atas Almagest dan karya-karya saintifik pra-Islam lainnya menegaskan bahwa sebelum Islam datang astronomi dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya sesungguhnya telah berkembang dengan bentuk, karakter, dan konstruksinya masing-masing yang tersebar di berbagai bangsa dan peradaban. Ketiga, adaptasi dan modifikasi yang dilakukan para intelektual Arab generasi awal menjadi kunci berkembangnya astronomi dan sains secara umum di dunia Islam, yang dari adaptasi-modifikasi ini melahirkan tradisi terjemah yang masif-intensif pula.

Keempat, secara praktis, tradisi terjemah, terutama terjemah teks-teks astronomi, menjadi jalan praktis pengetahuan orang-orang Arab (Islam) terhadap dunia astronomi, yang darinya astronomi terus berkembang dengan inovasinya hingga hari ini. Kelima, dari tradisi dan kearifan terjemah teks-teks astronomi dan teks-teks sains lainnya ini pula menegaskan bahwa ilmu (pengetahuan) pada dasarnya miliki semua orang yang tidak bisa disematkan kepada satu individu, satu kelompok, satu bangsa, satu peradaban tertentu, dan seterusnya. Ilmu adalah warisan bersama umat manusia. Wallahu a’lam[]

Previous Post

OIF UMSU Berikan Pelatihan Kepada FKDT Medan Johor

Next Post

Kunjungan dari PRM Aisyiyah Pasar IV Bandar Khalipah

Next Post
Kunjungan dari  PRM Aisyiyah Pasar IV Bandar Khalipah

Kunjungan dari PRM Aisyiyah Pasar IV Bandar Khalipah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU