Nova Anggraini
Tim Planetarium Observatorium Ilmu Falak UMSU
Secara geografis, Indonesia merupakan negara agraris dan maritim yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Indonesia terletak di daerah tropis yang terdiri dari 70% perairan dan kurang dari 30% daratan dan memiliki sekian banyak gunung berapi yang masih aktif. Ditinjau dari seismologi Indonesia juga sering mengalami gempa Bumi.
Masyarakat dibuat resah dengan isu yang beredar tentang melencengnya arah kiblat akibat gempa Bumi yang sering sekali terjadi di Indonesia. Alasannya karena tanah di Indonesia mengalami pergeseran sekitar tujuh cm pertahun, padahal sesungguhnya gempa tidak sampai menyebabkan pergeseran arah kibat.
Jika dalam survey lapangan banyak masjid yang arah kiblatnya kurang tepat, itu bukan disebabkan akibat gampa Bumi, melainkan karena sejak awal menentukan arah kiblat yang memang kurang akurat, hal ini juga disebabkan mungkin belum adanya instrumen yang cukup akurat untuk menentukan arah kiblat yang mendukung dengan keadaan sekitar.
Dalam skala global, sebenarnya dalam setiap tahunnya terjadi gempa Bumi mencapai angka pada kisaran satu juta gempa Bumi, hanya saja sebagian besar gempa tidak terdeteksi karena lemah. Gempa Bumi memancarkan energy melalui Bumi dalam bentuk gelombang. Gelombang-gelomang ini dirasakan sebagai getaran di permukaan Bumi, meskipun dirasakan pada jarak yang relative jauh dari sumber.
Semisal gempa Chili yang oleh NASA disebutkan berdampak pada pergeseran poros gambar Bumi dan percepatan rotasi Bumi, akan tetapi pergeseran lempeng yang sebenarnya menyebabkan perubahan rotasi Bumi itu bukan gempanya karena gempa sekadar indikator pelepasan energi akibat pergeseran lempeng Bumi keseimbangan gambar Bumi sedikit berubah karena massa kulit Bumi bergeser. Hal itu menyebabkan poros gambar Bumi bergeser.

Sumber Gambar : Klaus Kastle
Poros gambar bumi tidak sama dengan poros astronomis “poros Utara-Selatan” yang menggambarkan poros rotasi Bumi. Untuk kasus gempa Chili pada 2010 lalu pergeserannya sekitar 8 cm dimana sudutnya bergeser 2,7 milidetik busur = 0,00000075 derajat sehingga terlalu kecil untuk dilihat. Sedangkan gempa dahsyat di Aceh pada 2004 lalu pergeserannya hanya 7 cm dimana sudutnya bergeser 2,32 milidetik busur = 0, 00000064.
Pergerakan lempeng tektonik tidak berpengaruh terhadap arah kiblat pasalnya pergerakan lempeng dalam setahun kurang dari sepersatu juta derajat, jadi secara praktis tidak mempengaruhi posisi lintang dan bujur geografis makah atau posisi tempat pengamatan.
Lempeng tektonik memang berubah posisi namun tidak terlalu tinggi intensitasnya. Dalam waktu setahun, kecepatan gerakan lempeng 1 sampai 10 cm atau bergerak sejauh 1000 km dalam 10 sampai 100 juta tahun. Sehingga perubahan posisi pengamat dan Ka’bah akibat gerakan lempeng tektonik tahunan atau ratusan tahun masih tergolong kecil untuk keperluan penentuan arah kiblat.



