• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Live streaming
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Live streaming
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Penamaan Bulan dalam Kebudayaan Korea : Sebuah Telaah Literatur OIF UMSU

Admin Website by Admin Website
October 29, 2026
in Artikel
0
Penamaan Bulan dalam Kebudayaan Korea : Sebuah Telaah Literatur OIF UMSU
549
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bedah Literatur oleh Khairunnisa Najwa B.
Mahasiswa Prodi Ilmu Falak FAI UMSU

Bulan bukan sekadar benda langit yang menghiasi malam. Sejak dahulu, keberadaannya memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, mulai dari penentuan waktu dan penyusunan kalender hingga pembentukan tradisi, mitologi, dan karya seni. Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa astronomi tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan bahasa, sejarah, dan kebudayaan masyarakat.

Beragam hubungan antara Bulan dan kehidupan manusia dapat ditelusuri melalui buku Terminologi Bulan dari Berbagai Peradaban dan Negara karya Tim Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU). Buku yang diterbitkan oleh Bildung di Yogyakarta pada 2023 ini mengulas penamaan Bulan dalam berbagai peradaban dan negara, sekaligus memperlihatkan bagaimana manusia memahami dan memaknai benda langit dalam kehidupan mereka.

Salah satu pembahasan yang menarik untuk ditelusuri adalah kebudayaan Korea. Melalui pembahasan ini, pembaca diajak mengenal hubungan antara sistem penanggalan, penamaan bulan, perayaan tradisional, cerita rakyat, dan fenomena astronomi yang turut menginspirasi kebudayaan populer Korea.

Tampak bagian depan cover buku Terminologi Bulan dari Berbagai Peradaban dan Negara
Karya : Tim OIF UMSU

Identitas Buku

Judul : Terminologi Bulan dari Berbagai Peradaban dan Negara
Penulis : Tim OIF UMSU
Editor: Muhammad Hidayat dan Abu Yazid Raisal
Penerbit : Bildung
Tempat terbit : Yogyakarta
Tahun terbit : 2023
Tebal : x + 274 halaman
ISBN : 978-623-8091-744

Mengenal Para Penulis

Buku Terminologi Bulan dari Berbagai Peradaban dan Negara ditulis oleh empat penulis, yaitu Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, Hariyadi Putraga, Marataon Ritonga, dan Muhammad Dimas Firdaus. Penyuntingan buku dilakukan oleh Muhammad Hidayat dan Abu Yazid Raisal. Keempat penulis tersebut terlibat dalam penyusunan buku yang mengangkat pembahasan mengenai Bulan dari berbagai peradaban dan kebudayaan. Melalui karya ini, pembaca diajak melihat bahwa pembahasan tentang Bulan tidak hanya berkaitan dengan ilmu astronomi, tetapi juga berhubungan dengan bahasa, sejarah, tradisi, dan sistem penanggalan masyarakat. Dengan latar kajian ilmu falak yang menjadi bagian dari lingkungan penerbitan buku tersebut, Terminologi Bulan dari Berbagai Peradaban dan Negara menghadirkan pembahasan yang mempertemukan kajian benda langit dengan cara manusia memberi nama, memahami, dan memaknai Bulan dalam kehidupan mereka.

Mengenal Nama Bulan dalam Kebudayaan Korea melalui Buku Terminologi Bulan dari Berbagai Peradaban dan Negara

Bulan bukan hanya benda langit yang menghiasi malam. Dalam kehidupan manusia, Bulan juga menjadi penanda waktu, bagian dari tradisi, dan sumber inspirasi bagi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hal inilah yang menarik untuk ditelusuri melalui buku Terminologi Bulan dari Berbagai Peradaban dan Negara karya Tim Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU). Buku yang diterbitkan oleh Bildung di Yogyakarta pada 2023 ini membahas penamaan Bulan dalam berbagai peradaban dan kebudayaan. Pembahasannya tidak berhenti pada istilah atau nama yang digunakan, tetapi juga menyentuh fenomena alam, mitologi, serta peran Bulan dalam sistem penanggalan masyarakat. Salah satu pembahasan yang menarik untuk ditelusuri adalah penamaan bulan dalam masyarakat Korea. Melalui topik ini, kita dapat melihat bahwa hubungan manusia dengan langit tidak hanya berkembang dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga hadir dalam bahasa, tradisi, dan kebudayaan sehari-hari.

Kalender Korea dan Hubungannya dengan Peredaran Bulan

Dalam tradisi Korea, sistem penanggalan memiliki hubungan erat dengan peredaran benda langit. Kalender tradisional Korea menggunakan sistem lunisolar, yaitu sistem yang memadukan siklus Bulan dengan peredaran tahunan Matahari. Siklus Bulan menjadi dasar penentuan pergantian bulan, sementara penyesuaian terhadap tahun Matahari membantu menjaga keselarasan kalender dengan musim. Sistem ini memperlihatkan bahwa pengamatan langit sejak dahulu memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Kalender tidak sekadar menjadi alat untuk mengetahui tanggal, tetapi juga membantu masyarakat menentukan waktu pelaksanaan berbagai kegiatan dan perayaan. Dalam perkembangannya, Korea juga menggunakan kalender Gregorian, yang membagi satu tahun menjadi dua belas bulan dari Januari hingga Desember. Meskipun demikian, kalender lunar masih digunakan untuk menentukan sejumlah perayaan tradisional. Akibatnya, tanggal perayaan tersebut dapat berbeda setiap tahunnya jika dilihat berdasarkan kalender Gregorian. Perbedaan sistem penanggalan ini menunjukkan bahwa satu masyarakat dapat menggunakan lebih dari satu acuan waktu untuk kebutuhan yang berbeda. Kalender modern membantu mengatur kehidupan sehari-hari, sedangkan kalender tradisional tetap memiliki tempat dalam pelaksanaan kebudayaan.

Nama Bulan Tradisional dan Modern

Selain sistem kalender, penamaan bulan juga menjadi bagian menarik dalam pembahasan masyarakat Korea. Bahasa yang digunakan untuk menyebut bulan memperlihatkan adanya perbedaan pola antara penamaan tradisional dan modern. Dalam materi yang dibahas, penamaan tradisional dicontohkan dengan istilah yang berakhiran -dal (달), seperti horang-i-dal yang berarti bulan harimau dan yong-dal yang berarti bulan naga. Sementara itu, penamaan bulan modern menggunakan angka yang diikuti kata wol (월). Contohnya, il-wol (일월) berarti bulan pertama, i-wol (이월) berarti bulan kedua, dan sam-wol (삼월) berarti bulan ketiga. Pola tersebut memperlihatkan penamaan yang lebih sistematis karena mengikuti urutan angka. Perbedaan ini menjadi pengingat bahwa nama bulan bukan hanya persoalan bahasa. Penamaan juga dapat memperlihatkan cara masyarakat mengelompokkan waktu dan mewariskan istilah yang digunakan dalam kehidupan mereka. Namun, contoh penamaan tradisional tersebut perlu dipahami sesuai konteks sumber yang membahasnya, bukan langsung dianggap sebagai sistem resmi yang digunakan secara umum oleh seluruh masyarakat Korea saat ini.

Kalender yang Hidup dalam Tradisi

Hubungan antara kalender dan kebudayaan Korea dapat dilihat melalui berbagai perayaan tradisional. Seollal, misalnya, merupakan perayaan Tahun Baru Korea yang mengikuti kalender lunar. Pada momen ini, keluarga berkumpul dan menjalankan tradisi yang berkaitan dengan penghormatan kepada orang tua serta leluhur. Ada pula Jeongwol Daeboreum, yang berkaitan dengan bulan purnama pertama pada tahun lunar. Perayaan ini memperlihatkan hubungan yang jelas antara fase Bulan dan kehidupan budaya masyarakat. Bulan purnama tidak hanya menjadi fenomena yang diamati di langit, tetapi juga memiliki makna dalam tradisi yang diwariskan. Sementara itu, Chuseok dikenal sebagai perayaan yang berkaitan dengan musim panen dan rasa syukur. Perayaan ini berlangsung pada tanggal 15 bulan kedelapan dalam kalender lunar, yang berkaitan dengan fase purnama. Masyarakat Korea juga mengenal Dano dan Samjinnal, dua perayaan tradisional yang memiliki hubungan dengan perubahan musim dan kegiatan masyarakat. Berbagai perayaan tersebut menunjukkan bahwa kalender tradisional tidak berdiri terpisah dari kehidupan sosial. Penanggalan menjadi bagian dari cara masyarakat menentukan waktu berkumpul, merayakan peristiwa penting, dan mempertahankan tradisi dari generasi ke generasi.

Ketika Bintang Menjadi Bagian dari Cerita Rakyat

Hubungan astronomi dengan kebudayaan Korea juga dapat dilihat melalui legenda Gyeon-u dan Jik-nyeo yang dikenal dalam tradisi Chilseok. Kisah ini berakar dari legenda Asia Timur yang berkembang dalam berbagai kebudayaan, termasuk Korea. Dalam cerita tersebut, Gyeon-u digambarkan sebagai seorang penggembala sapi, sedangkan Jik-nyeo merupakan seorang penenun. Keduanya saling mencintai, tetapi terpisah oleh Bima Sakti. Menurut legenda, mereka hanya dapat bertemu satu kali dalam setahun. Pertemuan tersebut diperingati dalam tradisi Chilseok, pada tanggal tujuh bulan ketujuh kalender lunar. Jika dikaitkan dengan astronomi, Gyeon-u diasosiasikan dengan bintang Altair di rasi Aquila, sedangkan Jik-nyeo diasosiasikan dengan bintang Vega di rasi Lyra. Kedua bintang terang ini tampak berada di sisi berlawanan dari jalur Bima Sakti di langit musim panas. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana penampakan benda-benda langit dapat menginspirasi cerita rakyat. Apa yang diamati manusia di langit kemudian memperoleh makna melalui kisah yang diwariskan dan menjadi bagian dari kebudayaan. Dalam konteks ini, astronomi dan cerita rakyat dapat dipahami sebagai dua cara berbeda dalam memandang langit. Astronomi berusaha menjelaskan benda langit melalui pengamatan dan kajian ilmiah, sedangkan cerita rakyat menghadirkan makna budaya melalui pengalaman dan imajinasi manusia.

Bulan dan Astronomi dalam Drama Korea

Ketertarikan terhadap benda langit juga dapat ditemukan dalam karya hiburan Korea. Sejumlah drama menggunakan Bulan, Matahari, atau fenomena astronomi sebagai unsur cerita. Salah satunya adalah Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo (2016), yang mengangkat gerhana Matahari sebagai bagian penting dalam kisah perjalanan waktu tokoh utamanya menuju masa Dinasti Goryeo. Fenomena langit dalam drama ini menjadi penghubung antara kehidupan modern dan latar sejarah. Drama The Moon Embracing the Sun (2012) menggunakan Matahari dan Bulan sebagai simbol dalam kisah kerajaan, cinta, dan takdir. Sementara itu, Bon Appétit, Your Majesty(2025) memadukan cerita perjalanan waktu dengan latar kerajaan Joseon dan mengaitkan gerhana Matahari dengan alur ceritanya. Ketiga drama tersebut menunjukkan bahwa benda langit dapat menjadi sumber inspirasi bagi karya budaya populer. Meski demikian, penggambaran fenomena astronomi dalam drama perlu dibedakan dari penjelasan ilmiah. Gerhana Matahari, misalnya, merupakan fenomena alam yang dapat dijelaskan melalui posisi Matahari, Bulan, dan Bumi, bukan penyebab perjalanan waktu seperti dalam cerita fiksi.

Memahami Langit, Memahami Kebudayaan

Melalui buku Terminologi Bulan dari Berbagai Peradaban dan Negara, pembahasan mengenai Bulan membawa kita pada pemahaman yang lebih luas tentang hubungan manusia dengan alam semesta. Penamaan bulan, sistem penanggalan, perayaan tradisional, legenda bintang, hingga drama Korea memperlihatkan bahwa benda langit dapat hadir dalam banyak sisi kehidupan manusia. Contoh masyarakat Korea menunjukkan bahwa langit tidak hanya menjadi objek pengamatan astronomi. Langit juga menjadi sumber inspirasi bagi bahasa, cerita, dan tradisi yang terus diwariskan. Pada akhirnya, mempelajari nama dan makna Bulan dalam berbagai kebudayaan membantu kita memahami bahwa manusia mungkin memandang langit yang sama, tetapi memiliki cara yang beragam untuk memaknainya. Di situlah astronomi dan kebudayaan bertemu: pada upaya manusia untuk mengenali alam semesta sekaligus menemukan makna dari keberadaannya.

Previous Post

OIF UMSU menerima kunjungan dari Pondok Pesantren Modern Nurul Iman yang dibersamai Muallim/ah.

Next Post

Kunjungan dari SD An Nahlu Kisaran

Next Post
Kunjungan dari SD An Nahlu Kisaran

Kunjungan dari SD An Nahlu Kisaran

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Live streaming
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU