• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Info Astronomi

“Parhalaan” Dan Penanggalan Batak

Admin Website by Admin Website
August 30, 2022
in Info Astronomi
0
“Parhalaan” Dan Penanggalan Batak
911
SHARES
4.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Nova Anggraini

Tim Planetarium OIF UMSU

Parhalaan adalah istilah dalam bahasa Batak yang bermakna penanggalan atau kalender sederhana yang memiliki keunikan dan ciri dari budaya Batak. Perhalaan berasal dari Bahasa ‘hala’ berarti kalajengking hewan yang berbisa. Dalam Bahasa batak, perhalaan juga disebut dengan “pustaha” yang berarti acuan dalam penanggalan batak bagi para leluhur dalam meramal. Pada zaman dahulu, parhalaan sangat jarang ditemukan dalam keadaan tertulis, selain ditulis dengan medium bamboo “bulu perhalaan”, perhalaan juga ditulis pada tulang “holi perhalaan” dan ada juga kulit kayu “pustaha perhalaan”.

Pemakaian alat tersebut memiliki alasan tersendiri misalnya medium bambu digunakan berdasarkan daya tahannya karena sering dipegang dan di pindahkan sesuai dengan kebutuhan. Sementara medium kulit dan kayu apabila sering disentuh dan dibolak-balik berpotensi cepat rusak. Bahkan di pakpak (Dairi), perhalaan terbuat dari batok yang dilubangi sebanyak 30 buah.

Kalender Batak didasarkan pada fenomena alam bernama bulan dan digunakan untuk peramalan. Sejak lama masyarakat Batak emang tertarik dengan ilmu perbintangan (astrologi). Realitanya perhalaan dalam tradisi Batak sesungguhnya bukan system penjadwal waktu seperti dipahami hari ini, namun ia merupakan sebuah petunjuk ramalan yang dikaitkan dengan peredaran benda-benda langit. Lebih tepatnya perhalaan adalah kalender yang digunakan untuk menentukan hari baik dan hari buruk. Hampir semua aktifitas orang Batak dahulu ditentukan berdasarkan prediksi perhalaan.

Aktivitas-aktivitas itu antara lain pesta perkawinan, memanen, mendirikan rumah, kelahiran, Kesehatan, dan lain-lain. Dan dalam kenyataannya kalender ini lebih berfungsi religus dan kepercayaan. Namun dalam praktiknya, orang Batak menghitung hari dengan melihat pola-pola benda langit khusunya bulan, matahari, dan bintang-bintang. Pengamatan ini dilakukan secara berulang sehingga menghasilkan kesimpulan numerik perhalaan yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut para leluhur Batak, pemetaan benda-benda langit dilakukan  berdasarkan pengataman bertahun-tahun dan terus diuji akurasinya.

Jumlah kalender hari satu bulan (30 hari) itu digunakan tidak berdasarkan urutan angka, namun masing-masing memiliki nama hari tersendiri. Nama-nama hari dalam kalender Batak itu adalah : artia, suma, anggara, muda, boraspat, singkora, samisara, antian ni aek, sum ani mangadop, anggara sampulu, mud ani mangadop, boraspati ni tangkop, boraspati tinangkop, singkora purnama, samisara purnama, tula, sum ani holom, boraspati ni holom, singkora mora turun, singkora dua pulu, samisara mora turun, antian ni angga, mud ani mate, boraspati ni gok, singkora duduk, samisara bulan mate, hurung, ringkar.

 

Previous Post

Tradisi dan Periodisasi Penerjemahan Literatur Sains di Peradaban Islam

Next Post

Pengukuran Kiblat Masjid Amal Binjai Utara

Next Post
Pengukuran Kiblat Masjid Amal Binjai Utara

Pengukuran Kiblat Masjid Amal Binjai Utara

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU