Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Masjid Ibn Thulun adalah masjid bersejarah di Mesir, dibangun pada tahun 876 M-879 M oleh seorang raja yang bernama Ibn Thulun atau Ahmad bin Thulun (berkuasa tahun 868 M–884 M), karena itu pula masjid ini dinamakan dengan nama “Masjid Ibn Thulun”, nisbah kepada sang raja tersebut. Masjid ini sejatinya sudah berumur cukup tua (tertua kedua di Mesir setelah Masjid Amr bin ‘Ash) dan menjadi salah satu peninggalan masa kejayaan Islam di Mesir. Ciri dan keunikan masjid ini adalah menara spiral yang ada di bagian belakang masjid yang mirip menara Masjid Agung Samarra di Irak. Secara geografis masjid ini berada di tengah kawasan al-Qatai yang merupakan bekas kota keluarga kerajaan dinasti Ibn Thulun silam. Al-Qatai sendiri tidak jauh dari kota tua al-Fusthat (sekarang Cairo). Keunikan lain masjid ini adalah Menara Malawiyah (al-ma’dzanah al-malawiyah) yaitu tempat azan yang tentu satu paket dengan instrumen mizwala sebagai penentu masuknya waktu salat.

Masjid Ibn Thulun saat terik matahari (Dokumentasi Pribadi)

Kubah-menara di tengah halaman Masjid Ibn Thulun (Dokumentasi Pribadi)
Salah satu peninggalan masjid ini adalah sebuah jam matahari (mizwala) yang pernah digunakan masyarakat, terutama jamaah masjid, sebagai penentu waktu masuknya salat Zuhur dan Asar serta penentu waktu sehari-hari. Hanya saja amat disayangkan kini mizwala ini telah hilang dan tinggal kenangan. Sejauh ini tidak diketahui secara persis penyebab hilangnya mizwala ini, namun dapat diduga karena memang sudah tidak berfungsi lagi karena sudah tersedianya jam modern, selain juga karena instrumennya yang sudah rusak sehingga tidak dapat berfungsi lagi. Seperti dikemukakan David A. King (seorang peneliti sejarah astronomi di dunia Islam), mizwala ini saat itu (saat ia meneliti instrumen ini) memang sudah tidak utuh lagi, retak, dan ada beberapa bagian yang sudah hilang.

Mizwala sebagaimana terdapat di Mesjid Ibn Thulun (Sumber: King, 1978)
Menurut J. L. Berggren dalam artikelnya “Sundials in Medieval Islamic Science and Civilization” (Simon Fraser University, Burnaby, B.C. Canada), di akhir abad ke-13 M di Cairo tampaknya merupakan periode penggunaan instrumen mizwala yang cukup masif, diantaranya yang dutunjukkan pada instrumen mizwala Ibn Thulun ini. Sebuah sumber menyebutkan bahwa terdapat piringan mizwala yang hampir identik dengan piringan mizwala masjid Ibn Thulun yang ditemukan dalam sebuah salinan naskah manuskrip yang ditulis oleh seorang ulama bernama Ibn al-Muhallabi. Piringan mizwala ini pembuatnya tidak diketahui, memiliki rangkaian garis dan lekukan dan terbagi menjadi dua bagian, dengan garis tengah hari untuk masing-masing bagiannya yang membentang di sepanjang sisi timur dan barat lempeng serta jaring garis mizwala ke arah tengah dimana keduanya saling tumpang tindih. Tidak hanya garis ekuinoks dan hiperbola titik balik matahari yang ditampilkan, tetapi juga garis hiperbola yang menunjukkan masuknya matahari ke dalam masing-masing skala.
Menurut J. L. Berggren lagi, pada saat mizwala Masjid Ibn Thulun dikonstruksi, seorang astronom Muslim bernama Najmuddin al-Mishri menyusun seperangkat tabel untuk ketepatan waktu matahari dan bintang di semua lokasi berisi banyak entri. Dengan tabel ini dia menunjukkan bagaimana memecahkan masalah astronomi bola yang melibatkan segitiga bola. Tabel-tabel ini juga digunakan untuk menghasilkan tabel-tabel lain sebagaimana dalam karya Najmuddin al-Mishri tentang instrumen astronomi.

Gambaran pelat mizwala yang hampir identik dengan pelat mizwala masjid Ibn Tulun yang ditemukan dalam salinan manuskrip karya Al-Muhallabi (Sumber: J. L. Berggren, 2001 M)
Mizwala Ibn Thulun ini sendiri pernah secara khusus dilakukan penelitian atasnya oleh David A King dan koleganya L. Janin. Penelitiannya ini ia tulis dalam bahasa Perancis dengan judul “Le Cadran Solaire de la Mosquée d’Ibn Tūlūn au Caire” yang diterbitkan dalam “Majallah Tārīkh al-‘Ulūm al-‘Arabiyyah”, Aleppo: edisi II, jilid II, 1978 M, h. 331-356. Namun sekali lagi mizwala ini kini sudah tidak ada lagi, namun ia menjadi khazanah dan sejarah penting bagi generasi kini, bahwa manajemen waktu dan instrumennya telah ada waktu itu. Selain itu, baik Masjid Ibn Thulun maupun Mizwala itu sejatinyamerupakan warisan berharga peradaban Islam, khususnya bagi bangsa Mesir.

Survei dan ekspedisi di Masjid Ibn Thulun (Dokumentasi Pribadi)



