• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Mengenal Satuan Jarak dalam Astronomi

Admin Website by Admin Website
February 27, 2023
in Artikel
0
Mengenal Satuan Jarak dalam Astronomi
1.8k
SHARES
8.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Muhammad Dimas Firdaus

Astronomi merupakan ilmu pengetahuan yang membahas semua benda langit yang berada di luar atmosfer Bumi. Bulan, Matahari, bintang, galaksi dan benda langit lainnya merupakan objek kajian yang dipelajari dalam astronomi. Tidak seperti ilmu alam lainnya yang dapat menyentuh, dan memodifikasi objek kajian secara langsung di ruang laboratorium, objek kajian astronomi memiliki jarak yang sangat jauh dari penelitinya, sehingga diperlukan satuan jarak yang berbeda dari yang biasa digunakan di permukaan Bumi. Ada beberapa istilah satuan jarak yang hanya digunakan dalam dunia astronomi. Mari berkenalan satu per satu dengan satuan jarak dalam astronomi.

Satuan Astronomi (SA) atau Astronomical Unit (AU)

Sumber: https://scitechdaily.com/iau-changes-the-astronomical-unit-from-equation-to-number/

Satuan astronomi merupakan satuan jarak terdekat yang digunakan dalam dunia astronomi yang lebih besar dari kilometer. Satuan ini diambil dari jarak Bumi – Matahari, jika kita mencari pada mesin pencari seperti google, 1 AU akan dikonversi menjadi 149.597.871 kilometer. Bagaimana bisa muncul angka tersebut, sementara orbit Bumi mengelilingi Matahari berbentuk elips? Ada perjalanan panjang bagaimana akhirnya nilai 1 SA disepakati bersama dan digunakan sebagai satuan dalam mengukur jarak dalam astronomi.

Pada awalnya Aristarchus, seorang polymath dari Samos, Yunani yang pertama kali memperkirakan jarak Bumi – Matahari sekitar 20 kali jarak Bumi – Bulan, namun ternyata perkiraan tersebut meleset, nyatanya jarak Bumi – Matahari adalah 390 kali jarak Bumi – Bulan. Definisi terkini dari 1 SA adalah panjang setengah sumbu panjang dari lintasan orbit Bumi mengelilingi Matahari yang didapat dari perhitungan astronomi modern menggunakan pengamatan radio dan perhitungan orbit, dengan nilai eksak 149.597.870,691 kilometer, dengan akurasi 30 meter.

Dalam praktik penggunaannya (yang tidak memerlukan ketelitian tinggi) satuan ini biasa dibulatkan menjadi 150 juta km. Satuan SA digunakan untuk menunjukkan jarak yang relatif dekat, seperti benda-benda langit yang berada di dalam tata surya. Contoh, jarak Jupiter dari Matahari adalah 5,2 SA. Hal ini akan mempersingkat penulisan jika dibandingkan dengan satuan kilometer. Jika menggunakan satuan kilometer berarti jarak Jupiter – Matahari adalah 778.000.000 kilometer, terlalu panjang hanya untuk menuliskan jarak suatu planet dari bintang induknya.

Tahun Cahaya atau Light Year

The Milky Way
Sumber: http://www.icc.dur.ac.uk/~tt/Lectures/Galaxies/LocalGroup/Back/galaxy.html

Walaupun pada penulisannya ada kata tahun, namun satuan ini bukanlah satuan waktu. Jika kita tulis pada mesin pencari google 1 tahun cahaya dikonversi menjadi 9.4605284 × 1012 kilometer atau jika dituliskan secara lengkap adalah 9.460.730.472.580.800 meter, lebih dari 9 triliun kilometer. Seperti namanya, satuan ini diambil dari perjalanan cahaya dalam satu tahun. Dari penelitian diketahui bahwa kecepatan cahaya adalah 299.792.458 meter per detik, jika dalam satu detik saja cahaya dapat berpindah sejauh 300 ribu kilometer, maka tidak heran apabila dalam satu tahun, cahaya dapat berpindah lebih dari 9 triliun kilometer.

Dengan nilai sebesar itu penggunaan tahun cahaya adalah untuk benda-benda langit yang jaraknya cukup jauh sehingga tidak efektif jika dituliskan dalam satuan astronomi apalagi dalam kilometer. Contoh, bintang terdekat dari Matahari adalah Proxima Centauri yang memiliki jarak 4,25 tahun cahaya. Apabila ditulis dalam satuan SA menjadi 2,6877 × 107 SA dan apabila ditulis dalam kilometer menjadi 4,0208 × 1012 km, sungguh tidak efektif. Oleh karena itu, penggunaan tahun cahaya biasanya untuk menuliskan jarak bintang-bintang di sekitar Matahari dalam galaksi Bimasakti.

Parsek atau Parsec (Parallax of One Arcsecond)

parsec
https://astronomy.com/magazine/ask-astro/2020/02/why-is-a-parsec-326-light-years

Satuan parsek (pc) merupakan satuan yang nilainya lebih besar dari tahun cahaya. Nama satuan ini merupakan singkatan dari parallax of one arcsecond. Jika tahun cahaya adalah satuan jarak yang diukur dari pergerakan cahaya, parsek adalah satuan jarak yang diukur dari besar sudut paralaks (beda lihat) sebuah benda langit. Jika ada sebuah benda langit yang ketika diamati memiliki nilai sudut paralaks 1 detik busur (1 detik busur = 1/60 menit busur = 1/3600 derajat) maka benda tersebut berjarak 1 pc. Singkatnya, 1 parsek = 206265 SA = 3,26 tahun cahaya = 31000 triliun kilometer.

Walaupun secara nilai hanya berbeda sedikit dengan tahun cahaya, para astronom lebih senang menggunakan satuan parsek untuk menunjukkan jarak benda-benda langit yang sangat jauh. Selain karena angka yang perlu ditulis lebih sedikit, hal ini memudahkan astronom karena berkaitan dengan nilai sudut paralaks dari benda langit tersebut. Untuk saat ini parsek merupakan satuan paling besar dalam dunia astronomi, sehingga berlaku juga aturan perkalian 10 seperti dalam satuan metrik, yaitu kiloparsek (kpc) = 1000 parsek, megaparsek (Mpc) = 1000 kpc, hingga gigaparsek (Gpc) = 1000 Mpc. Hingga saat ini diperkirakan jari-jari alam semesta adalah 24 Gpc!

Perhatikan video simulasi berikut ini!

Sumber:

https://langitselatan.com/2008/07/19/mengenal-satuan-satuan-jarak-dalam-astronomi/

https://langitselatan.com/2012/09/19/definisi-ulang-1-satuan-astronomi/

https://solarsystem.nasa.gov/news/1230/cosmic-distances/#:~:text=Astronomical%20units%2C%20abbreviated%20AU%2C%20are,miles%20(150%20million%20kilometers).

https://lco.global/spacebook/distance/units-distance-and-size-universe/

Previous Post

Planet Venus dan Jupiter Berdekatan

Next Post

Dr. Oman Jelaskan Rumus-Rumus Hisab Muhammadiyah

Next Post
Dr. Oman Jelaskan Rumus-Rumus Hisab Muhammadiyah

Dr. Oman Jelaskan Rumus-Rumus Hisab Muhammadiyah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU