Muhammad Dimas Firdaus
Bulan Zulkaidah dan Bulan Zulhijah termasuk dalam bulan-bulan suci dalam Agama Islam karena mulai dilaksanakannya proses ibadah Haji, khususnya pada tanggal 9 – 13 Zulhijah. Namun sayang, untuk perhelatan ibadah haji tahun ini dilingkupi dengan berita duka, ratusan jamaah haji asal Indonesia wafat di tanah suci. Salah satu penyebab utamanya adalah sengatan suhu panas, atau dikenal dengan istilah heat stroke. Jamaah haji harus berhadapan dengan suhu mecapai lebih dari 50°C di siang hari. Lalu mengapa hal ini terjadi? Dan apakah setiap tahun akan terjadi hal serupa ketika pelaksanaan ibadah haji di tanah suci?

Kita ketahui bersama bahwa Jazirah Arab merupakan daerah gurun pasir yang memang memiliki suhu cukup tinggi, ditambah berkumpulnya banyak orang sehingga cukup sulit untuk mendapatkan ruang dengan suhu yang ideal. Selain daripada itu ibadah haji kali ini bertepatan dengan Summer Solstice, atau Posisi Matahari pada Titik Balik Utara. Bisa dikatakan musim haji tahun ini bertepatan dengan puncak musim panas di lintang utara.

Ibadah Haji yang dilaksanakan pada 9 – 13 Zulhijah 1446 H bertepatan dengan tanggal 8 – 12 Juni 2024 sangat dekat waktunya dengan puncak Summer Solstice. Mekah dengan lintang ~21°, dan Matahari dengan deklinasi ~23° selama ibadah haji berlangsung, mengakibatkan Matahari mencapai titik tertinggi pada ~88°. Hal ini berdampak pula pada lama Matahari berada di atas ufuk. Selama musim haji Matahari dapat berada di atas ufuk sekitar 13,5 jam. Waktu paparan sinar Matahari yang lebih lama ini meningkatkan risiko sengatan panas yang lebih tinggi.

Kendati tahun ini ibadah haji dilaksanakan pada waktu musim panas, tidak setiap tahun ibadah haji dilaksanakan pada musim panas. Hal ini dikarenakan kalender Hijriah yang digunakan sebagai acuan waktu umat Islam tidak berpatokan pada musim, berbeda dengan kalender masehi. Dalam kurun waktu 1 tahun penanggalan hijriah memiliki selisih 10 – 11 hari dengan kalender masehi. Maka dalam kurun waktu ~18 tahun ibadah haji dilasanakan pada musim dingin di Arab, atau bertepatan dengan winter solstice, ketika Matahari berada pada Titik Balik Selatan.


