Makromatul ‘Afifah nasution
Tim OIF UMSU
Kairo, Mesir, sejak abad pertengahan telah menjadi pusat gravitasi intelektual dunia Islam. Kota dengan ribuan menara ini menyimpan jutaan naskah klasik (turats), tradisi keilmuan yang hidup, serta situs-situs sejarah astronomi yang tak ternilai harganya.Bagi akademisi dan peneliti ilmu falak (astronomi Islam), menjejakkan kaki di Kairo bukan sekadar perjalanan fisik atau wisata spiritual, melainkan perjalanan menelusuri jejak keilmuan dan menjalin hubungan akademik.
Perjalanan inilah yang diabadikan oleh Assoc. Prof. Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, M.A. dalam karyanya yang ke-37 berjudul Rihlah Intelektual : Catatan, Esai, dan Kenangan 10 Hari di Cairo (UMSU Press, 2024). Buku setebal 220 halaman ini menyajikan rekam jejak perjalanan ilmiah 10 hari yang sarat akan aktivitas riset, penelusuran naskah kuno, serta upaya membangun jejaring keilmuan internasional.

Tampak bagian cover depan buku Rihlah Intelektual : Catatan, Esai, dan Kenangan 10 Hari di Cairo
Sumber : Perpustakaan OIF UMSU
Buku ini menjadi menarik karena perjalanan yang disajikan bukan semata-mata catatan perjalanan, melainkan sebuah rihlah intelektual yang mempertemukan pengalaman lapangan, sejarah ilmu, filologi, astronomi Islam, dan diplomasi akademik.
Tentang Penulis
Buku Rihlah Intelektual merupakan karya Assoc. Prof. Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, M.A., lahir di Buntu Pane, Asahan, Sumatera Utara pada 20 Juli 1980. Beliau merupakan pakar filologi dan astronomi Islam lulusan Institute of Arab Research and Studies, Kairo. Saat ini beliau mengabdi sebagai Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FAI UMSU) sekaligus menjabat sebagai Kepala Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU.
Selain kiprah akademis, penulis aktif dalam struktur kelembagaan keislaman, sebagai Ketua Majelis Tarjih PW Muhammadiyah Sumatera Utara, Anggota Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara, dan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Hingga saat ini, beliau telah mempublikasikan lebih dari 45 karya tulis berfokus pada ilmu falak, manuskrip Arab, dan sejarah peradaban sains Islam.
Menjadikan Perjalanan sebagai Rihlah Keilmuan
Dalam buku ini, perjalanan menuju Kairo diawali dengan persiapan akademik dan kelembagaan. Kerja sama antara UMSU dan UIN Walisongo Semarang menjadi salah satu landasan perjalanan tersebut, yang kemudian dilanjutkan dengan perumusan tema riset, koordinasi tim, hingga persiapan teknis sebelum keberangkatan.
Perjalanan ditempuh melalui rute Medan–Jakarta–Doha–Kairo. Namun, sesampainya di Mesir, aktivitas yang dijalankan tidak berhenti pada kunjungan wisata. Setiap hari diarahkan pada agenda akademik dan penelitian yang mempertemukan tim dengan berbagai institusi, tokoh, kolega, manuskrip, serta peninggalan astronomi Islam. Hal tersebut terlihat jelas dalam Bab III, “Catatan 10 Hari di Cairo”, yang menjadi bagian utama buku. Bab ini merekam perjalanan secara kronologis, mulai dari hari pertama hingga kepulangan pada hari kesepuluh.
Sepuluh Hari Menelusuri Jejak Ilmu di Kairo
Bab ketiga menjadi inti narasi yang merekam dinamika harian selama berada di Mesir :
Hari ke-1 (Hunting Buku & PCIM Mesir) : Mengawali hari dengan sarapan tradisional ful medames di Najf al-’Araby, perburuan buku ilmiah di kawasan Darrasah dan Dar as-Salam dekat Universitas Al-Azhar, serta mempertemukan penulis dengan tradisi keilmuan Islam yang masih hidup yakni tradisi talaqqi di Masjid Al-Azhar. Di masjid ini, penulis juga menemukan 2 Mizwala yang berada di pintu depan dan belakang Masjid al-Azhar (Namun yang terletak di pintu depan sudah tidak dipasang dan prototipenya tersimpan di Pusat Ilmu Falak Al-Azhar atau Markaz Al-Azhar al-’Alamy li al-Falak asy-Syar’iy wa ‘Ulum al Fadha’ (Pusat Al-Azhar Dunia untuk Ilmu Falak Syar’i dan Sains Angkasa). Dilanjutkan silaturahmi bersama kader Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Mesir di Markaz Dakwah Muhammadiyah, Nasr City.
Hari ke-2 (Forum PUSKIN) : Menjadi pembicara dalam seminar terbatas di Pusat Kebudayaan Indonesia (PUSKIN) Kairo membawakan materi ‘Ilm al-Falak Dawruhu fi asy-Syari’ah al-Islamiyyah (Peran Ilmu Falak dalam Syariat Islam) menggunakan bahasa Arab. Kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi bersama warga HMMSU (Himpunan Mahasiswa dan Masyarakat Sumatera Utara) serta membahas rencana seminar ilmu falak.
Hari ke-3 (Inisiasi Kolaborasi Al-Azhar) : Kunjungan strategis Tim OIF sekaligus Prodi Ilmu Falak UMSU ke Jurusan Astronomi dan Meteorologi Fakultas Sains Universitas Al-Azhar. Pertemuan dengan Dr. Kamil Abdul Lathif (Ketua Jurusan) membuka peluang joint research, pertukaran mahasiswa/dosen, hingga informasi beasiswa studi astronomi.
Hari ke-4 (Dar al-Ifta’ & Pasar Buku Bekas) : Audiensi ke Lembaga Fatwa Mesir (Dar al-Ifta’), penelusuran katalog digital manuskrip falak, serta berburu buku langka di pasar buku bekas bersejarah El-Azbaqeya.
Hari ke-5 (Observatorium Helwan) : Kunjungan ke National Research Institute of Astronomy and Geophysics (NRIAG) / Observatorium Helwan. Berdiri sejak 1903 di gurun Helwan, tempat ini merupakan observatorium tertua di kawasan Arab-Afrika dan terdaftar sebagai warisan dunia UNESCO.
Hari ke-6 (Perpustakaan Nasional Mesir) : Menelaah lima naskah sains kuno secara digital di Dar al-Kutub al-Mishriyyah di tepi Sungai Nil, disusul dengan pemaparan seminar di HMMSU.
Hari ke-7 (Riset Mizwala & Sosialisasi KHGT) : Mengkaji mizwala (jam matahari kuno) di Benteng Salahuddin al-Ayyubi dan Masjid Abu adz-Dzahab, dilanjutkan diskusi strategis mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) bersama PCIM Mesir.
Hari ke-8 & 9 (Jejaring Akademik dan Presentasi OIF) : Silaturahmi dengan kolega riset Dr. Mahmud Mahdi Ibrahim di Misr University for Science & Technology, berkoordinasi dengan Atase Pendidikan Kairo (Dr. Abdul Muta’ali), serta mempresentasikan profil OIF UMSU di hadapan para peneliti dan guru besar NRIAG.
Hari ke-10 (Pusat Falak Al-Azhar & Kepulangan) : Mengunjungi Markaz Al-Azhar al-’Alamy li al-Falak asy-Syar’iy wa ‘Ulum al-Fadha’ untuk menjajaki kerja sama keilmuan sebelum kembali ke tanah air
Kenangan Kairo
Di luar catatan formal, penulis membawa pembaca menikmati nostalgia personal dan kebudayaan Mesir. Bab ini mengulas kuliner lokal, lanskap toko buku langka, sudut-sudut jalan bersejarah seperti Wasth al-Balad (Downtown), persimpangan Masjid Nuri Khattab, kenangan tinggal di syaqqah (apartemen) Hay Sadis, hingga fenomena Suq Sayyarat yang kini tinggal sejarah.
Esai Astronomi Islam
Nilai kontributif utama buku ini diperkuat pada bab kelima yang berisi tujuh esai analisis mendalam mengenai objek keilmuan spesifik di Kairo :
- Mizwala Masjid Al-Azhar
- Mizwala Masjid Muhammad Abu ad-Dzahab
- Mizwala Masjid Ibn Thulun
- Dua Mizwala di Benteng Salahuddin al-Ayyubi (termasuk pada tiang Masjid Nasir Muhammad bin Qalawun)
- Sejarah dan Peran Observatorium Helwan
- Kiprah Pusat Ilmu Falak Al-Azhar
- Pemetaan Pusat-Pusat Manuskrip Falak di Kairo
Keunggulan Buku
1. Integrasi Narasi dan Sains : Menggabungkan gaya penulisan catatan perjalanan (rihlah) yang mengalir dengan pendekatan ilmiah dan filologi.
2. Dokumentasi Sistematis : Menyajikan rincian fakta, tempat, tokoh, dan kronologi secara presisi, menjadikannya rujukan utama bagi peneliti turats sains.
3. Peta Jejaring Internasional : Menjadi panduan praktis bagi lembaga akademis Indonesia dalam membangun kerja sama riset dengan institusi keilmuan di Mesir.
4. Penguatan Literasi Falak : Mengenalkan pentingnya pemanfaatan instrumen klasik (mizwala) serta urgensi penyatuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Kesimpulan
Buku Rihlah Intelektual : Catatan, Esai, dan Kenangan 10 Hari di Cairo karya Assoc. Prof. Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar tidak sekadar merekam jejak perjalanan fisik. Lebih dari itu, Buku ini mencerminkan semangat literasi dan komitmen ilmiah untuk menggali khazanah peradaban Islam masa lalu dan menerapkannya dalam konteks modern. Bagi kalangan akademisi, mahasiswa, serta pegiat astronomi Islam, karya ini merupakan bacaan wajib yang memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya riset, diplomasi budaya, dan khazanah ilmu.


