• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Info Astronomi

Astronomi Dalam Kebudayaan Timur

Admin Website by Admin Website
August 30, 2022
in Info Astronomi
0
Astronomi Dalam Kebudayaan Timur
557
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Telah berlangsung diskusi rutin TIM OIF UMSU (13/01/2021), yang biasanya dilaksanakan setiap minggunya tepat nya di hari Rabu, yang pada hari ini di bawakan oleh abangda Hariyadi Putraga, S.Pd dengan tema “Astronomi Dalam Kebudayaan Timur”.
Langit merupakan sebuah misteri terbesar yang dilihat manusia dan hanya Sebagian kecilnya saja dapat dipahami oleh para pengamatnya. Misteri yang besar membuat pemikir dan ilmuwan mempelajarinya dan menghasilkan berbagai macam cerita sehingga dapat menarik minat orang lainnya untuk ikut mempelajarinya.
Beberapa daerah memiliki cerita dan kepercayan dimana alam memiliki personifikasi. Berisikan arwah leluhur, pahlawan, makhluk mistis, dan makhluk maha besar dan suci di tempat yang tidak terjamah manusia, sehingga mitos leluhur dimulai dan berakar berdasarkan pengamatan dan pengembangan kepercayaan mereka. Kisah langit sangat menarik, namun membingungkan
dan menyalahi kebanyakan logika alami. Kebanyakan kisah menggunakan benda yang terlihat tetap di langit, berbeda dengan benda seperti planet dan benda langit tak terlihat mata biasa.

Di zaman kita saat ini, kisah langit yang paling dikenal berasal dari peradaban Yunani, yang menyajikan kisah menarik untuk anak-anak dan dewasa, sehingga kisah mereka dapat tersebar ke berbagai belahan dunia. Sekarang, kita coba untuk melihat beberapa budaya astronomi dari peradaban lain diluar barat.

Orang Aborigin Australia telah hidup selama lebih dari 40.000 tahun di benua Australia dan keturunan mereka masih menikmati pemandangan indah galaksi Bima Sakti tepat di atas kepala. Dalam kurun waktu yang lama itu mereka membangun sistem pengetahuan astronomi yang mereka serap ke dalam kehidupan sosial, budaya dan agama mereka. Mereka mewariskan ini dalam bentuk lisan dari satu generasi ke generasi lainnya sebagai sistem pengetahuan yang hidup yang masih mereka hargai dan nikmati
Orang-orang Aborigin kemungkinan besar adalah manusia pertama yang menamai benda-benda langit di langit malam. Menurut Daisy Bates, Pelindung Suku Aborigin Persemakmuran yang tinggal bersama mereka selama lebih dari 40 tahun dalam hidupnya di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20: “Banyak gugus bintang yang kami sebut rasi bintang dibagi dan diberi nama oleh Aborigin ribuan abad sebelum orang Mesir kuno atau para astronom Yunani kuno mengamati dan menamainya, ”( Bates 1923 ). Dengan demikian, konstelasi yang paling mencolok dan terkenal di belahan bumi selatan, crux, dikenal sebagai “Kaki Elang”
sekilas materi dari  salah satu sub tema dari hasil presentasi diskusi yang dikutip dari buku “ Astronomy Across Cultures”
Tags: Diskusihariyadi
Previous Post

ALMANAK OIF UMSU

Next Post

Silaturrahim Falak ke Raja Siala

Next Post
Silaturrahim Falak ke Raja Siala

Silaturrahim Falak ke Raja Siala

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU