Medan, Selasa, 17 Februari 2026 pukul 16.30 WIB / 29 Sya’ban 1447 H (KHGT) — Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang berada di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menjadi pusat pelaksanaan kegiatan pengamatan hilal Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan diawali dengan pembukaan resmi, dilanjutkan kata sambutan dari para pimpinan, serta penjelasan astronomis bersama narasumber ahli dari BMKG dan OIF UMSU. Acara berlangsung di Auditorium Pascasarjana UMSU, Jl. Denai No. 217, Medan, dengan titik observasi utama di lantai 7 Gedung Pascasarjana UMSU sebagai lokasi strategis pengamatan hilal.

Sebagai unit kajian dan observasi ilmu falak di bawah UMSU, OIF UMSU mempersiapkan seluruh perangkat pengamatan secara teknis dan ilmiah, mulai dari instalasi teleskop, sistem pencitraan, hingga koordinasi tim rukyat. Kegiatan ini dilaksanakan bersama pemerintah sebagai bagian dari ikhtiar memastikan penentuan awal Ramadan dilakukan secara profesional, terukur, dan berbasis data astronomis.
Acara turut dihadiri oleh pejabat pemerintah, perwakilan Kementerian Agama, organisasi masyarakat (ormas) Islam, para cendekiawan, serta sejumlah media yang meliput jalannya kegiatan. Rangkaian pembukaan diawali dengan laporan kegiatan yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Dr. H. Impun Siregar, MA, yang menekankan pentingnya sikap saling menghormati dalam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadan.

Rektor UMSU, Prof. Dr. Agussani, M.AP, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas peran aktif OIF UMSU dalam mendukung kegiatan pengamatan hilal bersama pemerintah. Ia menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada UMSU merupakan bentuk pengakuan atas kesiapan fasilitas serta kompetensi sumber daya yang dimiliki.

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, juga memberikan sambutan sekaligus apresiasi terhadap kontribusi OIF UMSU dalam mendukung kegiatan keagamaan di Kota Medan, serta menyampaikan ucapan selamat menyambut bulan Ramadan kepada seluruh masyarakat.
Pada sesi pemaparan astronomis, Kepala Stasiun Geofisika BMKG, Sugeng, S.Tr.Geof, menyampaikan data posisi hilal berdasarkan parameter astronomi terkini. Berdasarkan perhitungan yang ada, hilal dinyatakan belum memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Indonesia, sehingga keputusan penetapan awal Ramadan dikembalikan sepenuhnya kepada pemerintah.
Sementara itu, Kepala OIF UMSU, Dr. H. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA, memaparkan dinamika metode penentuan awal bulan Hijriah, termasuk peralihan Muhammadiyah dari metode wujudul hilal menuju KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal). Ia menegaskan bahwa penguatan literasi ilmu falak serta pendekatan ilmiah menjadi komitmen utama OIF UMSU dalam memberikan kontribusi akademik dan keumatan.

Melalui rangkaian pembukaan, sambutan, dan penjelasan astronomis tersebut, OIF UMSU di bawah naungan UMSU kembali menegaskan perannya sebagai pusat kajian dan observasi ilmu falak yang aktif berkolaborasi dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat dalam mendukung penetapan awal bulan Hijriah secara ilmiah, edukatif, dan bertanggung jawab.















