Oleh: Hariyadi Putraga
TIM OIF UMSU

Gambar: Posisi Cahaya matahari saat Ekuinox (sumber: timeanddate.com)
Bulan September merupakan bulan saat matahari sudah bergerak dari belahan bumi utara menuju ke khatulistiwa. Pergerakan Matahari ini dapat diamati dengan memperhatikan besarnya nilai deklinasi matahari setiap harinya saat berada di atas khatulistiwa, nilai deklinasi berada pada sekitar 0 derajat. Peristiwa melintasnya matahari di atas Ekuator khatulistiwa disebut dengan Ekuinox yang terjadi sebanyak dua kali dalam setahun pada 20 Maret dan 23 September. Pada hari Ekuinox, durasi saat siang dan malam akan memiliki Panjang yang sama di seluruh dunia.
Selama perjalanannya ke khatulistiwa, matahari akan melintasi daerah di Indonesia sehingga saat mengalami kulminasi – Matahari berada pada titik tertingginya di langit – mengakibatkan bayangan yang dihasilkan oleh benda tegak akan jatuh tepat berada pada benda tersebut sehingga seolah – olah benda tersebut tidak memiliki bayangan. Peristiwa ini dikenal dengan hari tanpa bayangan.

Gambar: hari tanpa bayangan di beberapa tempat
Kota medan berada pada lintang 03° 34’ Utara sehingga untuk mendapatkan waktu terjadinya hari tanpa bayangan dengan memperhatikan nilai deklinasi matahari yang bernilai sekitar positif 3,5 derajat pula. Pada tahun 2020 hari tanpa bayangan juga terjadi 2 kali dalam setahun yaitu pada tanggal 29 Maret dengan nilai deklinasi 03° 28’ 28.8” pukul 12:30WIB dan pada 13 September dengan besar nilai deklinasi sebesar 03° 41’ 57.6” pada pukul 12:20 WIB.
Berikut adalah kegiatan yang pernah dilakukan oleh tim OIF UMSU dan dapat dilakukan saat hari tanpa bayangan.

Gambar: menghilangnya bayangan gnomon pada sundial tegak.

Gambar: jatuhnya cahaya matahari dari lubang jam matahari analog

Gambar: jatuhnya bayangan dari anjungan lantai 7 ke lantai penanda peristiwa transit matahari di tanggal lantai 6



