• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Instrumen Modern

Mengenal Bagian-Bagian Sextant

Admin Website by Admin Website
August 30, 2022
in Instrumen Modern
0
Mengenal Bagian-Bagian Sextant
2.1k
SHARES
9.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Rizkiyan Hadi

Sebelum adanya GPS (Global Positioning System) sebagai alat navigasi, para pelaut biasanya mengamati posisi bintang atau benda langit untuk menentukan arah dan posisi mereka saat berlayar di lautan yang luas. Salah satu alat yang biasa mereka gunakan dalam mengamati posisi bintang (benda langit) adalah sextant. Sextant adalah salah satu instrumen berbasis optik yang berorientasi pada bidang tegak dan datar, dimana bidang tegak digunakan untuk mengetahui sudut ketinggian benda langit sedangkan bidang datarnya digunakan untuk mengetahui nilai azimut benda langit. Alat ini dapat dibawa atau diangkat menggunakan tangan dan para pelaut menggunakan alat ini untuk menentukan bujur dan lintang suatu tempat yang dilalui oleh kapal dengan mengukur sudut ketinggian Matahari. Tipe sextant yang digunakan di kapal ada dua yaitu Sextant Tromol yang ditemukan oleh Jhon Hadley dan sextant nonius yang saat ini tidak digunakan. Prinsip kerja sextant adalah mengukur sudut antara tinggi benda langit terhadap horizon (cakrawala). Dalam mengukur tinggi benda langit, sextant menggunakan prinsip optik dengan pantulan cermin. Ilustrasi prinsip kerja sextant ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Jika sinar cahaya (Ray of light) dipantulkan dari dua cermin berturut-turut maka sudut antara arah pertama dan terakhir sinar adalah dua kali sudut antara cermin dan sudut ini kemudian dapat dibaca dari busur. Dengan menggunakan rumus segitiga bola penggunaan sextant juga dapat menentukan posisi kapal. Untuk akurasi sendiri sextant memiliki akurasi pengukuran sekitar 1 menit busur atau sesuai dengan akurasi 1 mil laut. Pada dasarnya sextant terdiri dari sebuah teleskop, cermin separuh yang dilapisi perak dan sebuah lengan ayun yang memiliki cermin indeks. Adapun bagian-bagian Sextant yang digunakan saat ini :

  1. Frame (kerangka) Sextant. Frame sextant biasanya terbuat dari besi, aluminum dan tembaga dan berbentuk seperenam lingkaran. Syarat kerangka yang baik adalah harus kuat tetapi tetap ringan, dibuat dari bahan tembaga/ aluminium, dan dicat berwarna gelap seperti hitam.
  1. Teropong. Teropong atau teleskop digunakan untuk memperbesar objek pada saat pengamatan dan lebih mempermudah pengamatan. Teropong sendiri ada 2 macam yaitu teropong panjang (teropong bintang) dan teropong pendek (teropong belanda).
  1. Penyangga. Tempat teropong dilekatkan pada kerangka dengan mengatur sekrup penyangga yang dapat diputar. Dengan memutar sekrup penyangga teropong dapat diatur lebih jauh atau lebih dekat dengan kerangka atau cermin horizon. Penyetelan diatur sedemikian rupa tergantung dari luas pengamatan ataupun lewat cermin kecil melalui teropong serta memperhitungkan kecerahan dari bayangan yang dipantulkan.
  1. Lembidang busur (Arc). Lembidang busur dibuat dari lempengan logam tipis yang mempunyai angka-angka dari paling rendah dan seterusnya membesar, angkanya berkisar dari -5’ sampai dengan 120’ atau lebih.
  1. Alhidade (index arm). Gagang atau lengan ayun yang bisa digerakkan maju mundur untuk membidik posisi benda langit.
  1. Sekrup penjepit (clamp). Dengan menggunakan tekanan jari, penjepit melepas dan ketika jari melepas alhidade akan menjepit kembali.
  1. Pegangan (Handle). Pegangan diberikan untuk mempermudah dalam memegang sextant.
  1. Tromol (micrometer drum). Karena semua derajat dibaca pada lembidang busur maka menit busur akan dibaca di bagian tromol. Tromol sendiri berguna untuk menggeser pembacaan pengukuran sudut.
  1. Skala Vernier. Skala Vernier memiliki 5 atau 6 skala garis, yang setara dengan 0.2’ atau 10’ setiap garis busur. Menit busur yang berhimpit dengan skala vernier dibaca menjadi detik busur pada sextant.
  1. Cermin Besar (index mirror). Berbentuk persegi yang terbuat dari kaca cermin.
  1. Cermin Kecil (horizon mirror). Berbentuk lingkaran atau persegi yang terbuat dari setengah kaca cermin dan setengahnya lagi kaca tembus pandang.
  1. Kaca berwarna (indes shades). Berfungsi mengurangi insentitas cahaya yang terlihat, apalagi ketika mengamati Matahari.

Walaupun penggunaan sextant saat ini sudah digantikan oleh GPS akan tetapi para pelaut masih menggunakan alat ini dikarenakan alat ini bisa menjadi alternatif bahkan dalam ilmu astronomi pelayaran, alat ini menjadi salah satu materi pembelajaran. Itulah penjelasan singkat tentang bagian-bagian sextant.

Previous Post

Kalender Hijriah Dalam Al-Qur’an

Next Post

Mengenal Ilmuwan Muslim Abu Raihan al-Biruni (w. 440 H/1048 M)

Next Post
Mengenal Ilmuwan Muslim Abu Raihan al-Biruni (w.  440 H/1048 M)

Mengenal Ilmuwan Muslim Abu Raihan al-Biruni (w. 440 H/1048 M)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU