• id Indonesian
    • en English
    • id Indonesian
OIF UMSU
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel
No Result
View All Result
OIF UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Parade Aurora Mei 2024 dan Aktivitas Matahari

Admin Website by Admin Website
June 15, 2024
in Artikel
0
Parade Aurora Mei 2024 dan Aktivitas Matahari
561
SHARES
2.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Muhammad Dimas Firdaus

Pertengahan Mei 2024 media sosial diramaikan dengan banyaknya foto-foto jepretan keindahan aurora dari berbagai daerah di Bumi. Dari negara-negara di lintang kutub seperti Islandia hingga negara subtropis dengan lintang 26° seperti Australia! Kondisi ini jelas tidak seperti biasanya. Aurora biasa muncul hanya di daerah dekat kutub atau lintang tinggi, namun di Mei 2024 ini hingga lintang menengah pun dapat mengamati aurora. Apa yang terjadi ini menjadikan fenomena aurora Mei 2024 masuk ke dalam jajaran aurora dengan keterlihatan pada lintang paling rendah dalam 500 tahun terakhir. Hal ini sama seperti fenomena Halloween Solar Storm 2003, fenomena 1958 hingga Badai Carrington 1859.

Beberapa gambar aurora yang banyak ditemui di media sosial

Kendati masuk dalam jajaran aurora luar biasa, apa yang terjadi pada pertengahan Mei 2024 tidak se-ekstrem badai-badai sebelumnya. Sebut saja Badai Carrington 1859, badai Matahari terbesar sepanjang sejarah itu dapat menghasilkan aurora yang dapat diamati hingga lintang 18°! Tentu saja selain aurora yang indah, pada saat itu jaringan telekomunikasi yang masih menggunakan telegraf pun bermasalah di seluruh Eropa dan Amerika. Memang betul keterlihatan aurora menjadi daya tarik bagi orang-orang yang menyaksikannya, namun ini pun menjadi parameter aktivitas badai Matahari. Semakin besar luasan daerah yang dapat mengamati aurora berarti semakin ekstrem pula badai Matahari yang terjadi.

Dokumentasi lontaran partikel dari Matahari menggunakan teleskop antariksa SOHO. Credit: ESA.

Lalu ada pertanyaan, apakah mungkin aurora teramati dari lintang tropis seperti Indonesia? Sebelum melangkah jauh, kita kenali terlebih dulu ragam iklim di Bumi. Ada beberapa klasifikasi iklim bergantung pada lintang, yaitu iklim tropis/ekuatorial dengan lintang antara 0 hingga 23.5°. Daerah ini merupakan bagian Bumi yang setiap hari dalam satu tahun mendapat sinar Matahari yang hampir rata. Kemudian ada iklim subtropis/temprate dengan lintang 23.5° hingga 66.5°. Daerah ini memiki 4 musim dengan panjang musim yang berbeda-beda. Terakhir adalah iklim kutub dengan lintang 66.5° hingga 90°. Daerah yang hanya akan mendapat sinar Matahari ketika musim semi – musim panas.

Pembagian zona iklim berdasarkan lintang. Credit: https://en.wikipedia.org/wiki/Temperate_climate#/media/File:Latitude_zones.png

Dari klasifikasi tersebut kita bisa ketahui bahwa aurora pernah teramati pada lintang tropis, yaitu sekitar 18° walaupun tidak sampai ke daerah Indonesia dengan lintang 11°. Ini menjadi tanda bahwa tidak menutup kemungkinan pada siklus Matahari yang akan datang aurora bisa saja teramati hingga Indonesia, namun tentu saja diperlukan badai Matahari yang sangat ekstrem agar itu bisa terjadi. Badai Matahari yang ekstrem tidak hanya berdampak pada keterlihatan aurora, ada hal negatif yang dapat terjadi, khusunya berkaitan dengan sinyal elektromagnetik seperti pada gangguan telekomunikasi telegraf 1859. Badai Matahari merupakan lontaran partikel magnetis dari Matahari, sehingga dapat mengganggu segala bentuk teknologi berbasis elektromagnetik seperti sinyal komunikasi hingga peralatan listrik.

Prof Dhani Herdiwijaya, Profesor Matahari dari Institut Teknologi Bandung/Observatorium Bosscha sempat memberikan tanggapan atas pertanyaan serupa, bahwa bisa saja aurora teramati dari daerah Indonesia/ekuator namun ketika itu terjadi maka kiamat internet/satelit pun datang. Bisa dipastikan ketika aurora teramati dari ekuator >80% satelit yang mengelilingi Bumi akan mati. Dengan teknologi yang ada saat ini tentu saja kerusakan pada alat komunikasi sangat besar dampaknya, terlebih sudah banyak teknologi satelit yang mengelilingi Bumi.

Pernyatan Prof Dhani Herdiwijaya dari media sosial Observatorium Bosccha. Credit: https://www.instagram.com/p/C685VIgP1Ka/

OIF UMSU
“Memotret Semesta Demi Iman dan Peradaban”

Previous Post

Majalah Observatoria Edisi – 35

Next Post

Pengakurasian arah kiblat oleh OIF UMSU di 2 lokasi, Masjid Taqwa dan Mushala An-Nahla Bu Ratih Herbalis Paya Mabar

Next Post
Pengakurasian arah kiblat oleh OIF UMSU di 2 lokasi, Masjid Taqwa dan Mushala An-Nahla Bu Ratih Herbalis Paya Mabar

Pengakurasian arah kiblat oleh OIF UMSU di 2 lokasi, Masjid Taqwa dan Mushala An-Nahla Bu Ratih Herbalis Paya Mabar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tik-tok

No Result
View All Result
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Motto
    • Instrumen
      • Instrumen Modern
      • Instrumen Klasik
    • Tim OIF UMSU
  • Kegiatan
    • Pengukuran Arah Kiblat
    • Observasi Benda Langit
    • Pelatihan dan Praktikum
    • Kerjasama
    • Pengabdian dan Penelitian
  • Galeri Kunjungan
    • Kunjungan Pelajar
    • Kunjungan Mahasiswa
    • Kunjungan Umum
    • Kunjungan Tokoh
    • Kunjungan Istimewa
    • Kunjungan Internasional
  • Hasil Observasi
    • Data Hilal
    • Upload Hilal
  • Karya
    • Terbitan
    • Produk
    • Majalah Observatoria
  • Publikasi
    • Kolom
    • Berita
    • Info Astronomi
    • Artikel

© 2025 OIF UMSU